Senin, 23 Mei 2011

artikel ocak bio III

PENGELOLAAN PEMBELAJARAN
(PENGELOLAAN KELAS)
Husen Hasan
Abstrack
Classroom management is the effort of teachers to create, maintain and develop a conducive learning climate (Udin S. Winataputra). Classroom management is one important skill to master teachers. Classroom management is different from the learning management. More emphasis on learning management planning activities, implementation, evaluation and follow-up in a lesson. While classroom management is more related to efforts to create and maintain optimal conditions. Classroom management need to be owned by teachers and students as prospective teachers, as this will assist in achieving their own learning goals. Classroom management is an activity carried out by teachers who aimed to create classroom conditions that allow ongoing learning process that is conducive and the maximum. One form of classroom management is arrangement seat, where arrangement seating needs to consider the physical environment in the classroom and also diversity characteristics of the students The purpose of writing this article is to discuss and learn about the management class. Method used in writing this article is a review of the literature or various results of the reference collection of books, textbooks, internet and various other sources that are obtained. A collection of reference are reviewed and the results loaded into an article or scientific work in the form of articles.
Key words: management, learning, class,
PENDAHULUAN

Upaya untuk mendidik siswa menguasai berbagai kompetensi sebagaimana menjadi orientasi dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi di Sekolah, tidak bisa dilepaskan dari arti penting faktor lingkungan sebagai kontekspembentukan pemahaman dan pemaknaannya; dan konteks tersebut ada lah kelas sebagai ruang psikologis dan sosiokultural. Akan tetapi sejauh yang bias dicermati dari berbagai hasil penelitian, persoalan tersebut masih sangat krusial dalam praktik pendidikan di Sekolah. Studi Nurkhoti’ah dan Kamari (2003) menemukan bahwa dalam pembelajaran di Sekolah seperti di bangku sekolah dasar, masih banyak guru yang belum menggunakan prinsip-prinsip pembelajaran secara optimal dan kegiatan di kelas masih banyak didominasi oleh guru. Bermula dari masalah ini pula, kemudian muncul persoalan-persoalan lain, seperti rendahnya prestasi belajar siswa. Dalam analisisnya terhadap rendahnya mutu pendidikan, Hidayanto dan Subijanto (2002), dan Wahyudi (2003) juga menunjuk pada faktor kurang tertatanya lingkungan kelas pembelajaran secara kondusif, sebagai penyebab lemahnya tingkat implementasi kurikulum.

Iklim kelas pembelajaran belum dikembangkan secara memadai, dan umumnya guru dan kepala sekolah belum mengenalnya. Mereka juga menyayangkan bahwa perhatian terhadap aspek ini agak terabaikan. Menurut mereka Hal ini biasa dilihat dari nihilnya wacana iklim lingkungan pembelajaran pada penataranpenataran guru, serta minimnya penelitian pada bidang ini di dunia pendidikan Indonesia. Dari hasil penelitian yang dilakukan, keduanya juga menemukan bukti bahwa terdapat korelasi yang kuat antara prestasi siswa di suatu kelas dengan suasana batin atau lingkungan psikososial yang tercipta di kelas tersebut. Karena itu menurut mereka, meskipun guru mempunyai kemampuan mengajar yang baik, tetapi jika tidak didukung oleh lingkungan kelas pembelajaran dan motivasi diri siswa yang merupakan aspekaspek dari lingkungan psiko-sosial kelas pembelajaran, maka hasil proses pembelajaran pun tidak akan optimal. Bahkan di Amerika, menurut mereka sekalipun berbagai perbaikan pendidikan telah dilakukan dengan menempuh berbagai bidang garapan, tetapi hasilnya belum memuaskan. Hal itu disebabkan diantaranya karena perbaikan-perbaikan itu belum atau hanya sedikit menyentuh aspek iklim kelas.

Selain itu penelitian-penelitian tentang pembelajaran juga masih terbatas pada kajian tentang pendekatan, metode, model pembelajaran. Karenanya, hasilnya pun menjadi sangat terbatas. Jangkauan penelitianya pun belum sampai pada upaya merumuskan dan mengembangkan dasar dasar pemikiran atau teoretik tentang pembelajaran dari suatu persepektif teoretik yang integratif, melihat pembelajaran sebagai integrasi antara dimensi psikologis, sosial dan kultural. Dengan demikian, penelitian ini merupakan hal baru yang mengikhtiarkan secara akademik ke arah penemuan dan sekaligus rekonstruksi teori pembelajaran yang psycho-socio-cultural-based”, khususnya dari perspektif “konstruktivisme”. Masalah penelitian adalah bagaimana pola penataan lingkungan pembelajaran, sehingga dapat memfasilitasi dan memediasi siswa menguasai struktur materi, membangun dan mengembangkan kompetensi atau kemampuan dasar, dan melakukan proses assimilasi, akomodasi, adaptasi, ekuilibrasi, dan rekonstruksi terhadap struktur internalnya.
METODE
Metode yang digunakan dalam penulisan artikel ini adalah menggunakan Library Research (penelitian kepustakaan) dimana artikel ini dibuat dengan menggunakan literature (kepustakaan) yaitu dari penulisan artikel atau hasil-hasil karya orang lain yang diambil dan dijadikan sebagai sumber referensi. Literature yang dimaksudkan adalah berasal dari berbagai buku dan referensi lain berupa tesis, skripsi, makalah, internet dan dan media-media lainnya yang diperoleh melalui perpustakaan, selanjutnya ditelaah dan menjadi sebuah hasil karya yang berupa artikel ini.

PEMBAHASAN
PENGELOLAAN PEMBELAJARAN (PENGELOLAAN KELAS)
A. Pengertian Pengelolaan Kelas
Menurut Suharsini Arikunto Pengelolaan (manajemen) dalam pengertian umum adalah pengadministrasian, pengaturan atau penataan suatu kegiatan. Sedangkan kelas menurut Oemar Hamalik adalah suatu kelompok orang yang melakukan kegiatan belajar bersama yang mendapat pengajaran dari guru. Pengelolaan kelas yang baik akan melahirkan interaksi belajar mengajar yang baik pula. Dengan kondisi belajar yang baik diharapkan proses belajar mengajar akan berlangsung dengan baik pula. Proses pembelajaran yang baik akan meminimalkan kemungkinan terjadinya kegagalan serta kesalahan dalam pembelajaran. Maka dari itu penting sekali bagi seorang guru memiliki kemampuan menciptakan kondisi belajar mengajar yang baik dan untuk mencapai tingkat efektivitas yang optimal dalam kegiatan instruksional kemampuan pengelolaan kelas merupakan salah satu faktor yang juga harus dikuasai oleh seorang guru, di samping faktorfaktor lainnya. Kemampuan tersebut yang kemudian disebut dengan kemampuan mengelola kelas.
Secara etimologis, pengelolaan kelas ialah usaha guru untuk menciptakan, memelihara dan mengembangkan iklim belajar yang kondusif (Udin S. Winataputra). Pengertian ini sejalan dengan pengertian yang dikemukakan oleh Winzer yang menyatakan bahwa pengelolaan kelas adalah cara-cara yang ditempuh guru dalam menciptakan lingkungan kelas agar tidak terjadi kekacauan dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk mencapai tujuan akademik dan social.
Menurut Purnomo, "Kelas adalah ruangan belajar (lingkungan fisik) dan rombongan belajar (lingkungan emosional)".
Lingkungan fisik meliputi :
 Ruangan,
 Keindahan kelas,
 Pengaturan tempat duduk,
 Pengaturan sarana dan alat pengajaran,
 Ventilasi dan pengaturan cahaya.
Sedangkan lingkungan sosio-emosional meliputi:
1) Tipe kepemimpinan guru,
2) Sikap guru,
3) Suara guru,
4) Pembinaan hubungan yang baik.

Menurut Winataputra (2003), menyatakan bahwa: Pengelolaan kelas adalah serangkaian kegiatan guru yang ditujukan untuk mendorong munculnya tingkah laku siswa yang diharapkan dan menghilangkan tingkah laku siswa yang tidak diharapkan, menciptakan hubungan interpersonal yang baik dan iklim sosoi- emosional yang positif , serta menciptakan dan memelihara organisasi kelas yang produktif dan efektif.
Akhmad Sudrajat (http://Akhmd sudrajat. wordpress.com), menyatakan bahwa: Pengelolaan kelas lebih berkaitan dengan upaya-upaya untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi yang optimal bagi terjadinya proses belajar (pembinaan rapport, penghentian perilaku peserta didik yang menyelewengkan perhatian kelas, pemberian ganjaran, penyelesaian tugas oleh peserta didik secara tepat waktu, penetapan norma kelompok yang produktif), didalamnya mencakup pengaturan orang (peserta didik) dan fasilitas.
Menurut Winzer (Winataputra, 1003: 9.9) menyatakan bahwa pengelolaan kelas adalah cara-cara yang ditempuh guru dalam menciptakan lingkungan kelas agar tidak terjadi kekacauan dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk mencapai tujuan akademis dan sosial.
Dari pendapat diatas maka dapat disimpulkan bahwa pengelolaan kelas adalah kegiatan yang dilakukan oleh guru yang ditujukan untuk menciptakan kondisi kelas yang memungkinkan berlangsungnya proses pembelajaran yang kondusif dan maksimal. Pengelolaan kelas ditekankan pada aspek pengaturan (management) lingkungan pembelajaran yaitu berkaitan dengan pengaturan orang (siswa) dan barang/ fasilitas. Kegiatan guru tersebut dapat berupa pengaturan kondisi dan fasilitas yang berada di dalam kelas yang diperlukan dalam proses pembelajaran diantaranya tempat duduk, perlengkapan dan bahan ajar, lingkungan kelas (cahaya, temperatur udara, ventilasi) dll.
Berbagai definisi tentang pengelolaan kelas yang dapat diterima oleh para ahli pendidikan, yaitu pengelolaan kelas didefisnisikan sebagai:
a) Perangkat kegiatan guru untuk mengembangkan tingkah laku siswa yang diinginkan dan menguragkan tingkah laku yang tidak diinginkan.
b) Seperangkat kegiatan guru untuk mengembangkan hubungan interpersonal yang baik dan iklim sosio emosional kelas yang positif.
c) Seperangkat kegiatan guru untuk menumbuhkan dan mempentahankan organisasi kelas yang efektif.
Dari ketiga definisi diatas, masing-masing mempunyai asumsi yang berbeda-beda. Para ahli menggabungkan ketiga dimensi itu menjadi definisi yang bersifat pluralistik, yaitu bahwa pengelolaan kelas sebagai seperangkat kegiatan untuk mengembangkan tingkah laku siswa yang diinginkan, menghubungkan interpersonal dan iklim sosio emosional yang positif serta mengembangkan dan mempertahankan organisasi kelas yang efektif. Kelas bukanlah sekedar ruangan dengan segala isinya yang bersifat statis dan pasif, namun kelas juga merupakan sarana berinteraksi antara siswa dengan siswa dan siswa dengan guru. Ciri utama kelas adalah pada aktivitasnya untuk dapat menjalankan aktivitas atau kegiatan pembelajaran yang dinamis perlu adanya suatu aktivitas pengelolaan kelas baik dan terencana. Keberhasilan mengajar seorang guru tidak hanya berkaitan langsung dengan proses belajar mengajar, misalnya tujuan yang jelas, menguasai materi, pemilihan metode yang tepat, penggunaan sarana, dan evaluasi yang tepat. Hal lain yang tidak kalah pentingnya adalah keberhasilan guru dalam mencegah timbulnya perilaku subyek didik yang mengganggu jalannya proses belajar mengajar, kondisi fisik belajar dan kemampuan mengelolanya.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, istilah pengelolaan diartikan dengan "penyelenggaraan, pengurusan". Sedangkan yang dimaksud dengan kelas adalah "tingkat, ruang tempat belajar di sekolah". dengan kata lain pengelolaan kelas diterjemahkan secara singkat sebagai suatu proses penyelenggaraan atau pengurusan ruang dimana dilakukan kegiatan belajar mengajar, dan untuk lebih jelasnya berikut pengertian pengelolaan kelas yang dikemukakan oleh Usman, bahwa "pengelolaan kelas adalah keterampilan guru untuk menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal dan mengembalikannya bila terjadi gangguan dalam proses belajar mengajar".
Menurut Wina Sanjaya bahwa pengelolaan kelas merupakan keterampilan guru menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal dan mengembalikannya manakala terjadi hal-hal yang dapat mengganggu suasana pembelajaran. Pendapat lain yang cukup menarik dalam buku Quantum Teaching tentang kelas, yaitu berfokus pada hubungan dinamis dalam lingkungan kelas yang mendirikan landasan dan kerangka untuk belajar. Beberapa pengertian pengelolaan kelas yang telah dikemukakan oleh para ahli di atas, dapatlah memberi suatu gambaran serta pemahaman yang jelas bahwa pengelolaan kelas merupakan suatu usaha menyiapkan kondisi yang optimal agar proses atau kegiatan belajar mengajar dapat berlangsung secara lancar.

B. Tujuan Pengelolaan Kelas
Menurut Usman (2003) pengelolaan kelas mempunyai dua tujuan yaitu tujuan umum dan tujuan khusus.
1) Tujuan umum pengelolaan kelas adalah menyediakan dan menggunakan fasilitas belajar untuk bermacam-macam kegiatan belajar mengajar agar mencapai hasil yang baik.
2) Tujuan khususnya adalah mengembangkan kemampuan siswa dalam menggunakan alat-alat belajar, menyediakan kondisi-kondisi yang memungkinkan siswa bekerja dan belajar, serta membantu siswa untuk memperoleh hasil yang diharapkan.
3) Tujuan pengelolaan kelas pada hakikatnya telah terkandung pada tujuan pendidikan dan secara umum tujuan pengelolaan kelas adalah penyediaan fasilitas bagi bermacam.macam kegiatan belajar siswa sehingga subjek didik terhindar dari permasalah mengganggu seperti siswa mengantuk, enggan mengerjakan tugas, terlambat masuk kelas, mengajukan pertanyaan aneh dan lain sebagainya.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tujuan pengelolaan kelas adalah menyediakan, menciptakan dan memelihara kondisi yang optimal di dalam kelas sehingga siswa dapat belajar dan bekerja dengan baik. Selain itu juga guru dapat mengembangkan dan menggunakan alat bantu belajar yang digunakan dalam proses belajar mengajar sehingga dapat membantu siswa dalam mencapai hasil belajar yang diinginkan.

C. Ketrampilan Mengelola Kelas
Keberhasilan mengajar seorang guru tidak hanya berkaitan langsung dengan proses belajar mengajar, misalnya tujuan yang jelas, menguasai materi, pemilihan metode yang tepat, penggunaan sarana, dan evaluasi yang tepat. Hal lain yang tidak kalah pentingnya adalah keberhasilan guru dalam mencegah timbulnya perilaku subyek didik yang mengganggu jalannya proses belajar mengajar, kondisi fisik belajar dan kemampuan mengelolanya. Oleh sebab itu kegiatan guru dapat dibagi menjadi dua, yaitu kegiatan pengelolaan pengajaran dan kegiatan pengelolaan kelas. Tujuan pengajaran yang tidak jelas, materi yang terlalu mudah atau terlalu sulit, urutan materi tidak sistematis, alat pembelajaran tidak tersedia, merupakan contoh masalah pembelajaran. Sedangkan subyek didik mengantuk, enggan mengerjakan tugas, terlambat masuk kelas, mengganggu teman lain, mengajukan pertanyaan aneh, tempat duduk banyak kutu busuk, ruang kelas kotor, merupakan contoh masalah pengelolaan kelas. Dan untuk penanggulangannya seorang guru harus dapat memberikan bimbingan sebab ini secara psikologis akan menarik keterlibatan siswa. Guru bisa memulainya dengan apa yang siswa sukai, bagaimana cara berpikir mereka dan bagaimana mereka menyikapi hal.hal yang terjadi dalam kehidupan mereka.

Untuk menunjang kegiatan belajar mengajar yang mengaktifkan siswa perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut :
1) Aksesbilitas : siswa mudah menjangkau alat dan sumber belajar.
2) Mobilitas : siswa dan guru mudah bergerak dari satu bagian ke bagian yang lain.
3) Interaksi : memudahkan terjadi interaksi antara diri siswa maupun antar Siswa
4) Variasi kerja siswa : memungkinkan siswa bekerja secara perorangan, berpasangan atau berkelompok. Pada intinya, kemampuan guru memilih strategi pengelolaan kelas yang tepat sangat tergantung pada kemampuannya menganalisis masalah kelas yang dihadapinya jika ia tepat meletakkan strategi tersebut maka proses belajar mengajar akan efektif.

D. Masalah-masalah Pengelolaan Kelas
Pada dasarnya kegiatan guru dikelas mencakup dua aspek utama, yaitu masalah pembelajaran dan masalah pengelolaan kelas. Berdasarkan definisi didepan, maka seorang guru akan berhadapan masalah individu dan masalah kelompok. Untuk dapat menyelesaikan masalah pengelolaan kelas yang efektif, maka guru harus mampu: mengidetifikasikan masalah yang bersifat individu dan kelompok, memahami berbagai pendekatan untuk menyelesaikan suatu permasalahan dan memilih pendekatan yang paling tepat untuk menyelesaikan masalah tersebut.
Masalah Individu
Asumsi yang mendasari, masalah individu adalah bahwa tingkah laku manusia itu mengarah pada pencapaian suatu tujuan. Setiap individu memiliki kebutuhan dasar untuk memiliki atau merasa dirinya berguna dan dibutuhkan. Jika individu gagal dalam mendapatkannya, maka Ia akan bertingkah laku secara berurutan dimulai dan yang paling ringan sampai denga yang paling berat.
Masalah Kelompok
Terdapat tujuh masalah kelompok yang berkaitan dngan pengelolaan kelas, yaitu:
1) Hubungan tidak harmonis,
2) Kekurangmampuan mengikuti peraturan kelompok,
3) Reaksi negatif terhadap sesama anggota kelompok,
4) Penerimaan kelompok atas tingkah laku yang menyimpang,
5) Penyimpangan anggota kelompok dafi ketentuan yang ditetapkan,
6) Tidak memiliki teman, tidak mau bekerja, atau bertingkah laku yang negatif,
7) Ketidakmampuan menyesuaikan diri terhadap perubahan lingkungan. Prosedur pengelolaan kelas dapat berupa:
 Tidakan Preventif
Tindakan preventi ini meliputi :Peningkatan kesadaran diri, Peningkatan kesadaran siswa, Inisialisasi sikap tulus dan guru, Mengenal dan menemukan suatu alternative
 Tindakan Kuratif
Tindakan ini meliputi :Pengidentifikasian, Membuat reneana, Menetapkan waktu pertemuan, Menjelaskan maksud pertemuan, Menunjukan bahwa guru pun bisa berbuat salah, Guru berusaha membawa siswa pada masalahnya, dan Bila pada pertemuan siswa tidak responsif, guru dapat mengajak siswa untuk berdiskusi. Adapun implikasi pengelolaan kelas terhadap pengembangan rencana program pembelajaran tergantung pada beberapa aspek, yaitu:
1. Karakteristik Siswa
Untuk dapat memperlancar proses belajar siswa, seorang guru perlu memperhatikan faktor yang terdapat pada diri siswa maupun faktor lingkungan yang perlu dimanipulasinya. Karakteristik siswa tensebut, meliputi:
a) Kemampuan Awal Siswa
Kemampuan awal siswa adalah kemampuan yang telah dimiliki oleh siswa sebelum ia mengikuti pelajaran yang akan diberikan. Kemampuan awal menggambarkan kesiapan siswa dalam menerima pelajaran yang akan disampaikan. Kemampuan awal siswa penting untuk diketahui guru sebelum memulai pembelajaran, karena dengan demikian dapat diketahui apakah siswa telah mempunyai pengetahuan awal yang merupakan prasyarat untuk mengikuti pembelajaran, sejauh mana siswa mengetahui materi apa yang akan disajikan. Kemampuan awal siswa dapat diukur melalui tes awal, interview, atau cara-cara lain yang cukup sederhana seperti melontarkan pertanyaan-pertanyaan secara acak dengan distribusi perwakilan siswa yang representatif.
b) Motivasi
Motivasi dapat didefinisikan sebagai tenaga pendorong yang menyebabkan adanya tingkah laku kearah suatu tujuan tertentu. Apabila siswa mempunyai motivasi yang tinggi, maka ia akan (1) memperlihatkan minat dan mempunyai perhatian, (2) bekerja keras dan inemberikan waktu pada usaha tersebut, (3) terus bekerja sampai tugas dapat diselesaikan. Berdasarkan sumbernya motivasi dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu: Motivasi instrinsik, yaitu motivasi yang datang dan dalam diii siswa, dan motivasi ekstninsik, yaitu motivasi yang datang dari luar din siswa. Dibawah mi diberikan saran-saran bagaimana guru dapat meningkatkan motivasi bagi siswa, yaitu:
1. Setiap materi perlu dibuat menarik
2. Setiap proses pembelajaran diusahan untuk membuat siswa aktif
3. Menerapkan teknik-teknik modifikasi tingkah laku untuk membantu siswa bekerja keras.
4. Memberikan petunjuk dan indikator pencapaian yang jelas.
5. Memperhitungkan perbedaan kemampuan individualantar siswa, latar belakang, dan sikap siswa terhadap sekolah atau mata pelajaran.
6. Mengusahakan untuk memenuhi kebutuhan defisiensi siswa, yaitu kebutuhan fsikologis, rasa aman, diakui oleh kelompoknya, serta penghargaan dengan jalan: memperhatikan kondisi fisik siswa, memberi rasa aman, menunjukan bahwa guru memperhatikan mereka, mengatur pengalaman belajar sehingga setiap siswa pernah memperoleh kepuasan dan penghargaan, mengarahkan pengalaman belajar kekeberhasilan dan membuat siswa tingkat aspirasi yang realistik, mempunyai orientasi pada prestasi, serta mempunyai konsep diri yang positif.
7. Mengusahakan agar terbentuk kebutuhan untuk berprestasi, rasa percaya diri.
8. Membuat siswa ingin menerapkan apa yang telah dipelajari dan ingin belajar lebih banyak lagi.
c). Perhatian
Didalam proses belajar mengajar, perhatian merupakan paktor yang besar pengaruhnya terhadap keberhasilan proses pembelajaran bagi siswa. Dengan perhatian dapat memuat siswa: mengarahkan din ketugas yang akan diberikan, melihat masalah-masalah yang akan diberikan, memilih dan membenikan fokus pada masalah yang hams diselesaikan, dan mengabaikan hal- hal yang tidak relevan. Cara-cara yang dapat dipakai guru untuk dapat menarik perhtian bagi siswa antara lain: Mengetahui minat siswa, memberikan pengarahan, menjelaskan tujuan-tujuan belajar, mengadakan tes awal atau kuis.

Pengelolaan kelas merupakan masalah yang amat kompleks dan seorang guru menggunakannya untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi kelas sedemikian rupa sehingga anak didik dapat mencapai tujuan pembelajaran yang ditetapkan secara efektif dan efisien. Pandangan mengenai pengelolaan kelas sebagaimana telah dikemukakan di atas intinya memiliki karakteristik yang sama, yaitu bahwa pengelolaan kelas merupakan sebuah upaya yang real untuk mewujudkan suatu kondisi proses atau kegiatan belajar mengajar yang efektif. Dengan pengelolaan kelas yang baik diharapkan dapat mendukung tercapainya tujuan pembelajaran di mana proses tersebut memberikan pengaruh positif yang secara langsung menunjang terselenggaranya proses belajar mengajar di kelas.

E. Pendekatan dalam Pengelolaan Kelas
Menurut James Cooper yang dikutip oleh Hendyat Soetopo mengemukakan tiga pendekatan dalam pengelolaan kelas, yaitu pendekatan modifikasi perilaku, pendekatan sosio-emosional, dan pendekatan proses kelompok. Berikut penjelasan ketiga pendekatan di atas adalah sebagai berikut :
1. Pendekatan Modifikasi Perilaku (Behavior-Modification Approach)
Pendekatan ini didasari oleh psikologi behavioral yang menganggap perilaku manusia yang baik maupun yang tidak baik merupakan hasil belajar. Oleh sebab itu perlu membentuk, mempertahankan perilaku yang dikehendaki dan mengurangi atau menghilangkan perilaku yang tidak dikehendaki. Berdasarkan pendekatan ini maka penulis dapat menyimpulkan bahwa dalam pendekatan modifikasi perilaku aktivitas di utamakan pada penguatan tingkah laku siswa yang baik maupun tingkah laku siswa yang kurang baik, dengan pendekatan ini diharapkan guru dapat merubah tingkah laku siswa sesuai dengan yang diharapkan oleh guru.
 Teknik-teknik yang dapat diterapkan adalah:
1) Penguatan negative
Penguatan negatif adalah pengurangan hingga penghilangan stimulus yang tidak menyenangkan untuk mendorong terulangnya perilaku yang diharapkan.
2) Penghapusan
Penghapusan adalah usaha mengubah tingkah laku subyek didik dengan cara menghentikan respon terhadap tingkah laku mereka yang semula dikuatkan oleh respon itu.
3) Hukuman
Yaitu penghentian secara langsung perilaku anak yang menyimpang. Sebenarnya penguatan negatif dan penghapusan merupakan hukuman yang tidak langsung. Dengan kata lain hukuman adalah pengajuan stimulus tidak menyenangkan untuk menghilangkan dengan segera tingkah laku subyek didik yang tidak diharapkan.

2. Pendekatan Iklim Sosio-Emosional (Socio-Emotional Climate Approach)
Pendekatan sosio-emosional bertolak dari psikologi klinis dan konseling. Pandangannya adalah bahwa proses belajar-mengajar yang berhasil mempersyaratkan hubungan sosio-emosional yang baik antara guru subyek didik. Dapat disimpulkan bahwa pendekatan ini mengutamakan pada hubungan yang baik antar personal di dalam kelas, baik itu guru dengan siswa maupun siswa dengan siswa, sehingga siswa merasa aman dan senang berada dalam kelas serta berpartisipasi dalam proses belajar mengajar dalam kelas. Dengan kata lain peran guru sangat penting dalam menciptakan iklim belajar yang kondusif dan guru diharapkan dapat merasakan apa yang dirasakan oleh siswa serta mampu menyikapinya secara demokratis
3. Pendekatan Proses Kelompok (Group-Process Approach)
Pendekatan proses kelompok berangkat dari psikologi sosial dan dinamika kelompok, dengan anggapan bahwa proses belajar-mengajar yang efektif dan efisien berlangsung dalam konteks kelompok. Untuk itu guru harus mengusahakan agar kelas menjadi suatu ikatan kelompok yang kuat.

Lain halnya dengan guru yang memperhatikan siswa, selalu terbuka, terhadap keluhan siswa, mau mendengarkan kesulitan belajar siswa, maupun selalu bersedia mendengarkan saran dan kritik dari siswa adalah guru yang disenangi oleh siswa. Siswa akan rindu dengan kehadirannya, siswa merasa nyaman disisinya, dan siswa merasa bahwa dirinya adalah keluarga bagi guru tersebut. Figur yang demikian ini biasanya akan sedikit sekali menemui kesulitan dalam mengelola kelas. Pengelolaan kelas yang dilakukan oleh guru seperti inilah yang diyakini berkorelasi positif dengan perubahan tingkah laku dan prestasi hasil belajar siswa. Dengan kata lain, menciptakan iklim kelas yang baik merupakan salah satu cara untuk meningkatkan efektivitas dan kualitas pembelajaran di kelas.
F. Penataan Ruang Kelas
Pembelajaran yang efektif dapat bermula dari iklim kelas yang dapat menciptakan suasana belajar yang menggairahkan, untuk itu perlu diperhatikan pengaturan/ penataan ruang kelas dan isinya, selama proses pembelajaran. Ruang kelas perlu ditata dengan baik sehingga memungkinkan terjadinya interaksi yang aktif antara siswa dengan guru, dan antar siswa. Sesuai dengan maksud pengelolaan kelas sendiri bahwa pengelolaan kelas merupakan upaya yang dilakukan oleh guru dalam menciptakan lingkungan pembelajaran yang kondusif, melalui kegiatan pengaturan siswa dan barang/ fasilitas. Selain itu pengelolaan kelas dimaksudkan untuk menciptakakan, memelihara tingkah laku siswa yang dapat mendukung proses pembelajaran. Maka dengan demikian pengelolaan kelas berupa penataan tempat duduk siswa sebagai bentuk pengelolaan kelas dapat membantu menciptakan proses pembelajaran yang sesuai dengan tujuan.
Ada beberapa prinsip yang perlu diperhatikan oleh guru dalam menata ruang kelas menurut Loisell (Winataputra, 2003: 9.22) yaitu:
1. Visibility ( Keleluasaan Pandangan)
Visibility artinya penempatan dan penataan barang-barang di dalam kelas tidak mengganggu pandangan siswa, sehingga siswa secara leluasa dapat memandang guru, benda atau kegiatan yang sedang berlangsung. Begitu pula guru harus dapat memandang semua siswa kegiatan pembelajaran.
2. Accesibility (mudah dicapai)
Penataan ruang harus dapat memudahkan siswa untuk meraih atau mengambil barang-barang yang dibutuhkan selama proses pembelajaran. Selain itu jarak antar tempat duduk harus cukup untuk dilalui oleh siswa sehingga siswa dapat bergerak dengan mudah dan tidak mengganggu siswa lain yang sedang bekerja.
3. Fleksibilitas (Keluwesan)
Barang-barang di dalam kelas hendaknya mudah ditata dan dipindahkan yang disesuaikan dengan kegiatan pembelajaran. Seperti penataan tempat duduk yang perlu dirubah jika proses pembelajaran menggunakan metode diskusi, dan kerja kelompok.
4. Kenyamanan
Kenyamanan disini berkenaan dengan temperatur ruangan, cahaya, suara, dan kepadatan kelas.
5. Keindahan
Prinsip keindahan ini berkenaan dengan usaha guru menata ruang kelas yang menyenangkan dan kondusif bagi kegiatan belajar. Ruangan kelas yang indah dan menyenangkan dapat berengaruh positif pada sikap dan tingkah laku siswa terhadap kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan. Penyusunan dan pengaturan ruang belajar hendaknya memungkinkan anak duduk bekelompok dan memudahkan guru bergerak secara leluasa untuk membantu dan memantau tingkah laku siswa dalam belajar. Dalam pengaturan ruang belajar, hal-hal berikut perlu diperhatikan menurut Conny Semawan,dkk. (udhiezx.wordpress: 3) yaitu:
1. Ukuran bentuk kelas
2. Bentuk serta ukuran bangku dan meja
3. Jumlah siswa dalam kelas
4. Jumlah siswa dalam setiap kelompok
5. Jumlah kelompok dalam kelas
6. Komposisi siswa dalam kelompok (seperti siswa yang pandai dan kurang pandai, pria dan wanita).
PENDAPAT PENULIS
Dengan memperhatikan berbagai defenisi menurut para ahli tentang pengelolaan pembelajaran (pengelolaan kelas), maka penulis dapat menuangkan pendapat yang terkait dengan pengelolaan kelas. Pengelolaan kelas pada dasarnya adalah merupakan cara-cara pedoman yang dilaksanakan oleh guru dalam menciptakan lingkungan kelas agar tidak terjadi keributan antarsiswa dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk mencapai tujuan akademik dan masyarakat. Oleh karena itu penulis selalu mengharapkan agar Lingkungan belajar yang aman, nyaman dan tertib, optimalisme merupakan harapan yang tinggi bagi penulis bakan bagi seluruh warga sekolah, kesehatan sekolah, serta kegiatan-kegiatan yang terpusat pada peserta didik merupakan hal yang dapat membangkitkan gairah, dan semangat siswa untuk belajar dengan baik. Pendekatan Proses Kelompok merupakan pengalaman belajar siswa didapat dari kegiatan kelompok di mana dalam kelompok terdapat norma-norma yang harus diikuti oleh anggotanya, terdapat tujuan yang ingin dicapai, adanya hubungan timbal balik antar anggota kelompok untuk mencapai tujuan, serta memelihara kelompok yang produktif.
PENUTUP
A. Kesimpulan
Pengelolaan kelas perlu dimiliki oleh guru maupun para mahasiswa sebagai calon guru, karena hal ini akan membantu dalam pencapaian tujuan pembelajaran sendiri. Pengelolaan kelas adalah kegiatan yang dilakukan oleh guru yang ditujukan untuk menciptakan kondisi kelas yang memungkinkan berlangsungnya proses pembelajaran yang kondusif dan maksimal. Salah satu bentuk pengelolaan kelas adalah penatan tempat duduk, dimana penatan tempat duduk perlu memperhatikan lingkungan fisik kelas dan juga keanekaragaman karakteristik siswa, mempertimbangkan kesesuaian metode yang digunakan oleh guru dengan tujuan akhir dari pembelajaran itu sendiri. Kondisi dan posisi tempat duduk dapat menentukan tingkat aktivitas belajar siswa di kelas. Hal tersebut sisebabkan karena tempat duduk yang nyaman akan membantu siswa untuk tenang dalam belajar dan apat pula menimbulkan gairah belajar siswa.
B. Saran
Dengan mengacu pada uraian yang terpampam pada judul artikel yang termuat pada halaman awal, penulis dapat menuangkan saran kepada guru sebagai pendidik maupun mahasiswa sebagai calon guru yang nantinya mempunyai tanggung jawab yang besar oleh karena itu perlu menjadi perhatian bagi guru dan bahkan mahasiswa sebagai calon pengajar bahwa keterampilan mengelola kelas salah satunya penataan tempat duduk harus dikuasai. Pengelolaan kelas menyangkut kepada menciptakan iklim atau kondisi belajar yang kondusif dan aksimal. Melalui penatan tempat duduk yang tepat diharapkan akan menfasilitasi siswa untuk belajar dengan aktif.
DAFTAR PUSTAKA
Akhmad Sudrajat. 2008. Teknik Pengelolaan Kelas. http://akhmadsudrajat.wordpress.com. Diakses tanggal 06 April 2011.
Anita Lie. 2007. Cooperative Learning (Memperaktikan Cooperatif Learning di Ruang-ruang Kelas). Jakarta: PT Grasindo
Usman, M.U. 2003. Menjadi Guru Profesional. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Udin S. Winataputra. 2003. Srategi Belajar mengajar. Jakarta: Universitas Terbuka Departemen Pendidikan Nasional
Udhiexz, 2008. Pengelolaan Kelas. http://udhiexz.wordpress.com/2008/05/27/pengelolaan-kelas. diakses tanggal 06 April 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar