Senin, 23 Mei 2011

Tugas PPL 1

BAB 1
PENDAHULUAN
`1. Latar belakang
Teknik bertanya dan memberikan motivasi merupakan bagian penting dalam kegiatan pembelajaran, terutama pelajaran matematika.karena dalam proses pembelajaran maupun penyelesaian memperoleh pengalaman menggunakan pengetahuan.Dalam hidup suatu tujuan membantu kita untuk memusatkan usaha dan perhatian, hal tersebut mengindikasikan terhadap apa yang ingin dicapai, sedangkan dalam pendidikan, tujuan mengindikasikan terhadap apa yang inginkan siswa untuk berlajar. Tujuan sangat penting sekali dalam mengajar karena mengajar merupakan sebuah tindakan yang beralasan dan disengaja. Mengajar adalah kegiatan yang disengaja untuk beberapa tujuan. Secara mendasar mengajar adalah memfasilitasi pembelajaran siswa. Mengajar haruslah beralasan, karena apa yang guru ajarkan akan dinilai oleh siswa agar menjadi lebih berarti. Memberi pertanyaan kepada siswa merupakan kegiatan yang tidak dapat dipisahkan dalam kegiatan belajar – mengajar,karena metode apa pun yang digunakan,tujuan pengajaran apa pun yang ingin di capai,dan bagai mana pun keadaan siswa yang di hadapi,maka bertanya kepada siswa merupakan hal yang tak dapat di tinggalkan sama sekali.karena pertanyaan yang di ajukan kepada siswa pada dasarnya bertujuan agar siswa lebih meningkatkan belajar dan berfikir terhadap pokok bahasan yang sedang di pelajari, di samping masih ada tujuan lain yang masih tersembunyi.
Namun demikian, membei pertanyaan kepada siswa agar berpengaruh positif tidaklah mudah.kiranya banyak dianara guru yag member pertanyaan kepada siswa malah siswa menjadi bingung dan bahlkan siswa malas belajar. Hal terjadi terlalu seringya guru member pertayaan. Sehingga anakmenjadi bosan,atau pertanyaan yang diberikan tidak sesuai dengan taraf kematangan siswa, atau mungkin pertanyaan tidak sesuia dengan topic yang di bahas. Bahkan mungkin terjadi guru memberikan pertanyaan karena merasa kurang siap dirinya terhadap bahan yang disampaikan yang akhirnya guru bertanya seenaknya.
Aspek alasan dari hubungan mengajar adalah dari hubungan mengajar adalah tujuan apa yang akan dipilih guru untuk siswanya. Aspek disengaja dari kegiatan mengajar terfokus pada, bagaimana guru membantu siswa mencapai tujuan yang diharapkan, yaitu bagaimana lingkungan belajar yang guru ciptakan dan kegiatan pengalaman apa yang akan dilalui siswa. Lingkungan belajar, kegiatan, serta pengalaman yang guru ciptakan harus ditempuh siswa sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan. Selain itu, setelah menetapkan tujuan yang ingin kemudian menentukan teknik mengajukan pertanyaan dan memberikan motivasi. Pemberian motivasi juga merupakan salah satu kegiatan dalam pelajaran matematika yang sangat penting baik oleh guru, maupun siswa disemua tingkatan mulai dari SD sampai SMU. Akan tetapi, hal tersebut masih dianggap sebagai bagian yang paling sulit baik bagi siswa yang mempelajarinya maupun bagi yang mengajarkannya. Karena mengajukan pertanyaan harus sesuai dengan materi yang telah diberikan kepada siswa, jika pertanyaan yang diajukan keluar darli lmateri akan membuat siswa mengalami kesulitan akibatnya, siswa akan mencap dirinya tidak bisa dalam pelajaran
Padahal, sebagaimana tercantum dalam kurikulum matematika sekolah bahwa tujuan diberikannya pelajaran matematika agar siswa mampu menghadapi perubahan keadaan didunia yang selalu berkembang, melalui latihan bertindak atas dasar pemikiran secara logis, rasional, kritis, cermat, jujur dan efektif. Hal ini jelas merupakan tuntutan yang sangat tinggi yang tidak mungkin bisa dicapai hanya melalui hafalan, latihan pengerjaan soal yang bersifat rutin, serta proses pembelajaran yang sungguh-sungguh. Untuk menjawab tuntutan tujuan yang demikian tinggi, maka perlu dikembangkannya materi serta proses pembelajarannya yang sesuai dengan tujuan pembelajaran.
Untuk itu, agar tujuan dalam pembelajaran dapat tercapai guru mestinya mempunyai kemampuan untuk menentukan strategi yang tepat terutama dalam mengajukan pertanyaan kepada siswa sesuai materi yang telah diajarkan sebelumnya, gunanya untuk mengukur sejauh mana kemampuan siswa dalam mendapat materi yang diajarkan, bagi siswa yang mempunyai kemampuan yang kurang maka guru harus terampil menentukan strategi dengan memberikan motivasi dan semangat sehingga kesulitan siswa dapat teratasi.
II. Tujuan
Tujuan yang ingin dicapai dalam pembuatan makalah ini sebagai berikut :
1. Dapat mengetahui teknik-teknik yang harus guru pelajari dalam mendiagnosis kesulitan siswa.
2. Dapat mengetahui seberapa jauh materi yang diterima oleh siswa dengan konsep tanya jawab atau bertanya dalam PBM.
3. Sebagai panduan oleh guru bagaimana cara yang efisien dalam mengajarkan materi yang diberikan agar dapat diterima dengan baik oleh siswa.

III. Rumusan Masalah
Pendidikan itu sangat penting untuk dipelajari karena diperlukan pemikiran yang logis, teliti cermat dalam mempelajarinya, agar matematika itu dapat dikuasai perlu kerja keras dan usaha yang sungguh-sungguh dan diperlukan strategi yang tepat dalam mempelajarinya. Oleh sebab itu, didalam makalah ini saya akan memberikan gambaran penting mengenai kumpulan masalah-masalah yang akan dibahas dalam makalah ini :
1. Bagaimana menentukan teknik mengajukan pertanyaan dan pemberian motivasi kepada siswa
2. Bagaimana Teknik mengajukan pertanyaan menurut para ahli (Taksonomi Bloom)
3. Bagaimana cara mengembangkan strategi bertanya yang efektif
.


BAB II
PEMBAHASAN
A. TEKNIK BERTANYA DALAM PROSES BELAJAR MENGAJAR (PBM)
Salah satu kegiatan penting dalam persiapan pemberlajaran sebuah materi atau topic dalam matematika adalah menentukan tujuan ( setting objective ) dan ujung kegiatan intinya adalah mengukur apa yang telah dipelajari oleh siswa melalui kegiatan penilaian. Hal yang lain yang tidak kalah pentingnya dalam persiapan atau perencanaan kegiatan pembelajaran matematika adalah menentukan strategi pemberian motivasi kepada siswa untuk belajar. Rendahnya motivasi siswa untuk belajar matematika mungkin diakibatkan olah banyak hal, diantaranya karena adanya masalah dalam belajar atau diakibatkan loeh pengalaman yang tidak nyaman dalam belajar matematika sebelumnya.
Siswa yang mampunyai masalah berkaitan dengan fisik, kemampuan intelektual atau masalh emosional besar kemungkinan lemah dalam matmatika, meskipun mereka menonjol dalam bidang studi yang lain. Beberapa diantaranya mereka barangkali lablih nyaman dan tertarik mempelajari bidang study lain dibandingkan dengan belajar matematika. Olah karena itu, sangat mungkin terjadi para siswa yang mempunyai masalah seperti ini tidak mempunyai keinginan untuk berusaha keras belajar Biologi lebih bersungguh-sungguh agar mendapatkan hasil belajar biologi yang lebih memuaskan. Hal ini dikarenakan sebelumnya secara mental mereka telah mencap dirinya tidak maampu belajar biologi, ”berprasangka buruk“, kurang percaya diri bahkan tidak pernah suka belajar biologi , padahala keadaan tersebut belum tentu benar,bahkan akan menjerumuskan dia pada situasi yang mungkin tidak menguntungkan.
B. KEGUNAAN BERTANYA

Penggunaan keterampilan bertanya yang tepat akan mempunyai beberapa manfaat, baik bagi guru maupun murid, manfaat-manfaat itu adalah antara lain:
1. Akan dapat membangkitkan minat dan rasa ingin tahu siswa terhadap pokok bahasan yang akan dibahas. Biasanya guru sebelum member pokok bahasan sudah mengadakanpertanyaan-pertanyaan kepada siswa. Hal ini akan membangitkan minat dan rasa ingin tahu teradap pokok bahasan yang dibahas.
2. Dapat memusatkan perhatian siswa terhadap pokok bahasan. Kalau guru memberikan pertanyaan sesuai dengan pokok bahasan yang diberikan, maka siswa akan berusaha untuk belajar dan ingin mengerti dai pokok bahaan yang telah disampaikan
3. Dapat menegembangkan keaktifan belajar dan berfikir siswa. Keaktifan siswa untuk belajar akan dapat ditingkatkan melalui beberapa pertanyaan guru yang berhubungan dengan materi yang diberikan
4. Menodorong siswa untuk dapat mengemukakan pandangan-pandangan yang berhubungan dengan masalah yang sedang dibahas.disini siswa dpat menemukan ide-ide baru yang ternyata dapat berguna bagi guru untuk menyusun program pengajaran berikutnya. Kadang-kadang siswa mempunyai ide yang ternyata belum diketahui sebelumnya oleh guru, sehingga hal ini juga akan mendorong guru untuk lebih menambah sumber belajarnya yang akan menambah pengetahuannya yang berhubungan dengan materi yang sedang dibahas.
5. Dapat dijadikan sebagai umpan balik bagi guru untuk mengetahui sejauh mana hasil prestasi belajar siswa selama proses belajar-mengajar
6. Dapat mengembamgkan kemampuan siswa dalam menemukan, mengorganisir dan menilai informasi yang pernah didapat sebelumnya

C. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam memberikan pertanyaan

Dalam memberikan pertanyaan kepada siswa, guru hendaknya dapat memperhatikan beberapa hal sebagai berikut:
1. Sebelum memberikan pertanyaan hendaknya guru sudah mengetahui jawaban yang dimaksud, sehingga jawaban yang menyimpang dari siswa akan segera dapat diketahui, dan diatasi.
2. Guru harus mengetahui pokok masalah yang ditanyakan dan membei pertanyaan sesuai dengan pokok yang dibahas. Sebab kalau guru bertanya yang tidak sesuai dengan pokok bahasan yang dibahas bisa terjadi siswa menjawab senak-enaknya atau berkepanjangan dan tidak dapat diketahui oleh guru antara benar dan yang salah. Dan hal demikian siswa kurang menaruh minat terhadap pokok bahasan yang sedang dihadapi
3. Hendaknya guru memberikan pertanyaan dengan sikap hangat dan antusias. Agar murid dapat berpartisipasi dala proses belajar-mengajar, maka guru harus menunjukan sikap yang baik diwaktu bertanya dan menerima jawaban dari siswa. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh guru dalam bersikap diwaktu bertanya atau menerima jawaban dari siswa yaitu:
a. Menunjukan gaya, suara, ekspresi wajah, posisi badan dan gerakan badan yang baik dan tepat pada waktu memberi pertanyaan dan menerima jawaban
b. Member penguatan kepada siswa yang menjawab dengan benar
c. Mendorong siswa untuk mengajukan pertanyaan dan menjawab pertanyaan dengan cara yang simpatik
d. Apabila guru tidak mengetahui jawaban dari pertanyaan yang diajukan siswa hendaknya kita tidak langsung menjawab dengan berbelit-belit atau dengan menjawab seenaknya. Lebih baik jawaban itu ditunda diwaktu yang akan datang, dapada siswa mengetahui bahwa jawaban yang diberikan guru itu salah. Hal yang demikian membuat siswa kurang menaruh kepercayaan terhadap gurunya, yang berakibat materi yang disampaikan tidak menarik perhatian siswa.
e. Menerima jawaban siswa dan menggunakan sebagai titik tolok uraian selanjutnya. Hal ini penting untuk mengkaitkan bahan yang dibahaengan materi yang sudah dimiliki siswa berdasarkan jawaban itu.

Hendaknya guru menghindari beberapa kebiasaan yang tidak perlu, yang biasa menguraikan siswa dalam proses belajarnya.

D. Kebiasaan-kebiasaan yang perlu dihindari guru dalam memberi pertanyaan

a. Mengulangi pertanyaan sendiri
Kebiasan mengulangi pertanyaan sendiri aka dapat mengganggu konsentrasi siswa. Kalau kebiasaan ini sering dilakukan guru, maka siswa akn menjadi acuh terhadap pertanyaan guru sebelum pertanyaan itu diulangi kembalidan akhirnya siswa pun akan membiasakan meminta pada guru untuk mengulangi pertanyaan. Hal yang demikian proses belajar anak akan tergangu dan situasi kelas akan bias menjadi kacau dan ramai.
Misanya :
Bagaimana proses terjadinya Hujan, anak-anak……? Selang beberapa detik, guru bertanya lagi ! bagaimana proses terjadinya hujan, anak-anak…?

b. Mengulangi jawaban siswa
Mengulangi lagi jawaban siswa akan dapat menjadi penguat terhadap belajar siswa, tetapi kalau kebiasaan ini sering dilakukan guru maka siswa akan bisa tidak mau mendengarkan dan memperhatikan jawaban temannya. Siswa mengharap guru mengulangi jawaban temannya itu. Dengan demikian siswa biasa mepunyai anggapan bahwa tidak ada jawaban yang benar jika tidak ada persetujuan lewat pengulangan dari guru. Dan akhirnya interaksi antar siswa tidak bisa berjalan, karena siswa tidak mau menanggapi jawaban yang dikemukakan temannya, dia hanya pasif menunggu persetujuan guru.
Misalnya :
Guru : Coba, dimana letak Candi Borobudur, Iwan ?
Iwan : Di daerah Magelang, pak !
Guru : ya…… di Magelang !

Sebaiknya guru tidak sering melakukan pengulangan seperti diatas, agar anak tidak selalu menunggu dari gurunya.

c. Pertanyaan ganda
Hendaknya guru tdak memberikan pertanyaan kepada anak yang mengandung jawab lebih dari satu pengertian.
Misalnya: jelaskan apa yang sedang kita makan.makanan yang bagaimana yang kita makan dan apa yang dimaksud dengan empapt sehat lima sempurna.
Pertanyaan seperti di atas akan dapat mematahkan samat belajar anak. Apa lagi anak yang mampu menjawab setiap pertayaan saja,dia akan frustasi dalam proses belajarnya. Sebaliknya pertanyaan di atas di berikan secara bertahap, yaitu kalau anak sudah dapat menjawab pertanyaan pertama baru pertaayn berukutnya. Dan seterusnya.
d. Pertanyaan yang Memancing Jawaban Serentak.
Pertanyaan yang di jawab serentak (bersama-sama) oleh siswa, akan mengakibatkan suasana kelas akan menjadi gadu danguru juga tidak dapat mengatahui siapa yang menjawab dengan benar.ada tiga hal yang mengakibatkan pertanyaan di jawab serentak oleh siswa yaitu:
 Pertanyaan yang membutuhkan jawaban “ya” atau “tidak”
Misalnya: Besi kalau di panaskan akan memuai ya atau tidak anak- anak ?
 Pertanyaan yang membutuhkan jawaban yang terlalu mudah.
Misalnya : Siapa presiden republic Indonesia sekarang, anak-anak ? ( pertanyaan yang di berikan kepada siswa sekolah menengah).
 Pertanyaan yang mempunyai kata-kata pencingan
Misalnya : apakah kamu semua sudah pernah ke Ternate, anak-anak ?

e. Menunjukan Siswa Sebelum Pertanyaan Diajukan
Hendaknya guru tidak menunjuk siswa terlebih dahulu sebelum memberikan pertanyaan-pertanyaan lebih dahulu.
Misalnya :
Kamu Satmika……. Apa yang akan terjadi apabila nilai uang terus-menerus merosot ?
Pertanyaan diatas akan mengakibatkan siswa yang bukan bersama Satwika tidak mau memikirkan jawaban yang dimaksud, karena jelas pertanyaan itu ditujukan kepada Satwika, kenapa harus ikut-ikut memikirkan jawabannya. Hal ini demikian menjadikan keadaan anak menjadi pasif dalam proses belajar-mengajar.


E. TAKSONOMI BLOOM
Pada tahun 1956 Benyamin Bloom menyamapaikan gagasannya berupa taksonomi tujuan pendidikan dengan menyajikannya dalam bentuk hierarki. Tujuan penyajian dalam bentuk system klasifikasi hierarki ini dimaksudkan untuk mengategorisasai hasil perubahan kognisi pada diri siswa sebagai hasil sebuah pembelajaran. Taksonomi bloom hanya memasukkan perubaha-perubahan mental yang dapat terukur dan teramati. Perubahan-perubahan yang dimaksud diatas adalah yang berkaitan dengan pemecahan masalah, testing, dan pengamatan. Melalui gagasan ini, bloom menyediakan rujukan yang dapat digunakan olah guru ( matematika ) untuk memformulasikan tujuan –tujuan pembelajaran memilih metode mengajar dan pendesainan tes serta aktifitas belajar siswa.
Taksonomi bloom yang dimaksud terdiri atas:
1. Pengetahuan ( knowledge ) selanjutnya disebut C1
Menekankan pada proses mental dalam mengingat dan mengungkapkan kembali informasi-informasi yang telah siswa perolah secara tepat sesuai dengan apa yang telah mereka perolah sebelumnya. Informasi-informasi yang dimaksud disini
berkaitan dengan symbol-simbol matematika, terminology dan peristilahan, fakata-fakta, keterampilan , dan prinsip-prinsip.
2. Pemahaman ( comprehension ) selanjutnya disebut C2
Adalah tingkatan yang paling rendah dalam aspek kognisi yang berhubungan dengan penguasaan atau pengertian tentang sesuatu. Dalam tingkatan ini siswa diharapkan mampu memahami idea-idea matematika bila mereka dapat mengunakan beberapa kaidah yang relevan tanpa perlu menghubungkannya dengan idea-idea lain dengan segala implikasinya.
3. Penerapan (application) selanjutnya disebut C3
Adalah kemampuan kognisi yang mengharapkan siswa mampu mendemontrasikan pemahaman mereka berkenaan dengan sebuah abstraksi matematika melalui pengunaanya secara tepat ketika mereka diminta untuk menunjukkan kemampuan tersebut, seorang siswa harus dapat memilih apa yang telah mereka miliki secara tepat sesuai dengan situasi yang ada dihadapanya.
4. Analisis ( analysis ) selanjutnya C4
Adalah kemampuan untuk memilih sebuah struktur informasi kedalam komponen sedemikian hingga hierarki dan keterkaitan antar idea dalam informasi tersebut menjadi tampak dan jelas. Bloom mengindefikasikan 3 jenis analisis : 1. analisis elemen atau bagian. 2. analisi hubungan. 3. analisis prinsip-prinsip pengorganisasian.



5. Sintesis ( synthesis ) selanjunya disebut C5
Adalah kemampuan untuk mengkombinasikan elemen-elemen untuk membentuk sebuah struktur yang unik atau system.
6. Evaluasi ( evaluation ) selanjutnya disebut C6
Adalah kegiatan membuat penilaian ( judgment ) berkenaan dengan sebuah idea , kreasi, cara atau metode. Evalusi adalah tipe yang tertinggi diantara ranah-ranah kognitif yang lain, karena dia melibatkan ranah-ranah yang lain, mulai dari pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, hingga sintesis.evaluasi dapat memadu seseorang untuk mendapatkan pengetahuan baru, pemahaman yang lebih baik, penerapan baru dan cara baru yang unik dalam analisis atau sintesis, misalnya bloom membagikan kegiatan evaluasi dalam 2 tipe yaitu:
1. Penilaian pada bukti atau struktur internal, seperti akurasi logika, dan konsistensi.
2. Penilaian pada bukti atau struktur external seperti teorema-teorema matematika dan sistemnya.

E. STRATEGI MENGAJUKAN PERTANYAAN
Ketika seorang guru matematika mempersiapkan pembelajran, sebuah topic atau unit, dia semestinya menentukan dua jenis tujuan terlebih dahulu., pertama tujuan dan materi matematika ( mathematical content ) yang diajarkan dan kedua adalah tujuan kognisi ( cognitive objective ) yang sesuai dengan sifat materi dan karakteristik siswa yang akan dihadapi. Baik tujuan materi maupun tujuan kognisi seyoginya dijelaskan kepada siswa bagaimana mereka mempersiapkan diri untuk mempelajari topic atau unit tersebut.
Banyak study dan penelitian dalam pendidikan matematika yang memperllihatkan bahwa para siswa mempunyai kecendrungan belajar matematika dengan baik bila mana kepada mereka diberikan hal-hal yang mesti mereka kuasai terlebih dahulu, misalnya, terminology atau peristilahan yang harus mereka pahami dan kuasai secara tepat. Kemampuan atau keterampilan macam apa yang harus mereka pelajari, dan dengan cara bagaimana mengukur atau mengevaluasi apa yang telah mereka pelajari.
Siswa semestinya mengetahui terlebih dahulu mereka diharapkan mendefinisikan konsep ( ingatan/ pengetahuan), tuntas menguasai keterampilan tertentu (pemahaman ), membuktikan teorema (sintesis) atau membandingkan struktur (evaluasi) Satu hal yang tidak kalah pentingnya dalam kegiatan belajar matematika adalah mengajukan pertanyaan (asking guestion) dalam kenyataanya, mengajukan pertanyaan atau bertanya adalah pusat aktifitas dalam sebagian besar strategi belajar mengajar matematika dan dalam prosedur evalusi hasil belajar. Geoege Polya menekankan dalam bahwa pemecahan ( problem solving ) dan metode penemuan dalam matematika ( mathematical discovery ) sebagai sesuatu yang bagus dan potensil untuk digunakan sebagai strategi mengajukan pertanyaan dalam proses belajar mengajar.
Strategi mengajukan pertanyaan dapat bermanfaat dan digunakan dalam mempertemukan sejumlah tujuan belajar dan bervariasi, baik dalam strategi pembelajaran berkelompok maupun pembelajaran secara individual. Kegiatan belajar secara berkelompok diantaranya adalah diskusi, inquiri, dan kegiatan laboratorium yang didalamnya terjadi interaksi, baik antara siswa dengan siswa maupun antara dengan guru, melalui aktivitas bertanya dan menjawab ( question and answer )
Agar sebuah kelompok maupun memecahkan sebuah masalah, anggota kelompok harus mengingat dan memecahkan hal-hal umum yang berkaitan dengan prosedur dan strategi. Kemudian memformulasilkan dan menjawab pertanyaan yang lebih khusus yang berkaitan dengan objek-objek matematika. Kebanyakan program-program pelajaran yang bersifat individual melalui penilaiaa awal ( pre assesment ) untuk menentukan level siswa dalam penguasaan materi- materi matematika prasyarat dan penilaian akhir ( post assesment ) untuk mengukur kemajuan siswa dalam sejumlah tujuan belajar tertentu. Kedua penilaian ini dilakukan dengan mengajukan pertanyaan, baik secara lisan maupun dalam bentuk tertulis.
Pada sebuah proses belajar mengajar matematika, agar siswa dapat belajar secara efektif, mereka harus berperan aktif dan tidak ditempatkan sebagai objek pembelajaraan, namun lebih sebagai subjek pembelajaran. Pertanyaan-pertanyaan seyoginya nerencanakan dan dibuat oleh guru untuk mendorong siswa berpartisipasi aktif dalam diskusi kelas ataupun aktifitas kelas lainnya. Hal ini dapat membantu para siswa merasa keberadaan mereka begitu penting dan berpeluang menjadikan berperan aktif didalam aktifitas kelas. Satu diantara banyak masalah yang dihadapi oleh guru dalam menyajikan materi matematika didalam kelas berukuran besar, dengan jumlah siswa yang banyak adalah perhatian para siswa. Karena situasi kelas yang kurang bahkan tidak konduksif menjadikan tidak semua siswa dapat memperhatikan apa yang diterangkan secara seksama.
Kelemahan ini dapat ditangulangi diantaranya melalui kegiatan yang didalamnya terdapat kegiatan bertanya, menjawab dan berdiskusi. Hal ini setidaknya dapat mengkondisikan situasi agar para siswa mengikuti apa yang guru sajikan didepan kelas. Strategi mengajukan pertanyaaan dapat dengan cara atau dengan mengunakan permainan. Teka-teki (mathematical puzzles). Atau kegiatan-kegiatan yang bernuansa penemuan (discovery activities ) cara ini berpeluang meningkatkan motivasi siswa untuk belajar .
Disamping apa yang telah dikemukakan diatas, metode tanya jawab secara langsung sangat efektif untuk me-review topik-topik atau unit-unit secara cepat setelah mereka memperoleh sesuatu. Sesi review yang telah diajarkan yang merupakan materi prasyarat bagi topik-topik atau unit-unit selanjutnya. Seandainya mampu, guru dapat: (i) mengembangkan pertanyaan-pertanyaan yang baik, bernas ( berisi ) dan relevan, (ii) melibatkan semua siswa dalam kegiatan bertanya dan menjawab pertanyaan, dan (iii) mengkondisikan serta mendorong diskusi kelas, strategi mengajukan pertanyaan dapat menjadi prosedur potensial untuk kegiatan tinjau-ulang (review) materi-materi matematika yang telah disampaikan kepada siswa.
Teknik-teknik mengajukan pertanyaan semestinya digunakan pula oleh para guru mendiagnosis kesulitan belajar siswa dan mengevaluasi ketuntasan siswa dalam memahami materi-materi. Melalui pertanyaan-pertanyaan yang relevan guru dalam melacak berapa jauh siswa dapat memahami apa yang telahl disampaikan hal-hal apa saja yang masih belum dikuasai dengan mantap. Untuk hal ini, guru dapat mengunakan kata-kata kunci “mengapa“,” bagaimana”, atau “dimana” untuk melihat paham tidaknya siswa akan sesuatu yang telah diberikan sebelumnya dan berapa jauh pemahaman akan hal tersebut.
F. TIPE-TIPE PERTANYAAN
Tipe-tipe pertanyaan yang guru dan siswa ajukan dalam kegiatan pembelajaran matematika seyogianya merujuk pada tujuan kognitif dan afektif dari pembelajaran yang dilakukan. Dalam perencanaan pembelajaran seorang guru semestinya mempersiapkan pertanyaan-pertanyaan yang akan ditanyakan kepada siswa sebagai bagian dari penilaian awal dan akhir pembelajaran. Guru seyogianya pula mengembangkan alternatif pertanyaan sebagai pelengkap dalam kerangka perencanan strategi pembelajaranya.
Sebelum guru mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan tujuan pembelajaran dan materi kepada siswa, mereka sebaiknya mencobakan terlebih dahulu pertanyaan-pertanyaan tersebut untuk dijawab sendiri. Cukuplah kedalam materinya, sesuai waktu yang diperlukan untuk berfikir dan menjawab pertanyaan yang diberikan? Hal itu dimaksudkan untuk memadu para guru dalam memformulasikan tujuan pembelajaran yang tepat dan proporsional. Disamping itu, hal tersebut akan membantu proses pembelajaran, khususnya dalam mengantisipasi masalah-masalah yang dihadapi guru dalam kegiatan pembelajaran. Bahkan, dengan mereka terlebih dahulu mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan materi matematika kepada diri sendiri akan menghindarkan kejadian guru tidak mampu menjawab permasalahan ketika pembelajaran secara berlangsung. Karena sangat tidak mungkin pertanyaan-pertanyaan tersebut diajukan oleh sisea ketika pembelajaran berlangsung dan guru mengalami kesulitan bahkan tidak sanggup menjawabnya.
Hasil dari bertanya kepada diri sendiri oleh guru dapat dijadikan sebagai pertimbangan apakah sebuah pertanyaan layak diajukan kepada siswa atau tidak, jika tidak layak bagaimana cara merevisi atau menganti pertanyaan tersebut agar lebih proporsional. Bahkan, hal tersebut dapat dijadikan tolak ukur untuk mengukur kemampuan mereka sendiri sebagai guru matematika
Beberapa contoh pertanyaan dibawah ini mengambarkan tipe-tipe pertanyaan yang dapat digunakan sebagai panduan dalam pembelajaran
• pertanyaan yang berkenaan dengan fakta.
contoh : “ dengan cara bagaimana kita menunjukan 6 dibagi 3 adalah 2 ?”
• pertanyaan yang berhubungan dengan pengetahuan tentang konsep
contoh :” apakah definisi sebuah vector “
• pertanyaan yang berkaitan dengan pengetahuan tentang prinsip
contoh: “ bagimana rumus umum sebuah kerucut.
3. Mengembangkan Strategi Bertanya Yang Efektif
Dalam sebuah pembelajaran, pertanyaan yang ditujukan kepada siswa seyoginya memperhatikan tingkat kesukaran pertanyaan tersebut. Tingkat kesukaran pertanyaan semestinya disesuaikan dengan kemampuan yang dimiliki oleh siswa yang bersangkutan. Siswa yang mempunyai kemampuan rendah sebaiknya terlebih dahulu diberi pertanyaan yang berkaitan dengan pengetahuan tentang fakta dan keterampilan. Selanjutnya, baru mereka diberi pertanyaan yang mempunyai tingkat kognitif yang lebih tinggi, misalkan pengetahuan tentang konsep atau prinsip. Sebaliknya, para siswa yang mempunyai kemampuan diatas rata-rata sebaiknya diberi pertanyaan-pertanyaan yang tingkat kognitifnya berkategori sedang dan tinggi.
Ketika pertanyaaan diberikan kepada siswa, guru sebaiknyamemberi kesempatan kepada semua siswa terlibat mencoba menjawab pertanyaan tersebut. Tetapi perlu diingat bahwa siswa yang mempunyai kemampuan “lebih” perlu dihindari, karena akan mengesampingkan keberadaan siswa yang berkemampuan rendah. Disamping itu, hal lain yang perlu diperhatikan adalah pemberian waktu yang cukup bagi siswa untuk memformulasi jawaban sebelum memberikan respon terhadap jawaban. Pertimbangaan pula respon guru terhadap jawaban siswa harus proporsional. Karena respon guru terhadap jawaban siswa yang tidak tepat akan membuat siswa yang bersangkutan tidak termotivasi dalam kegiatan Tanya jawab.
Dalam penyajian, pertanyaan-pertanyaan yang diberikan seyoginya bervariasi, baik model, bentuk, maupun tingkat kesukarannya. Sangat tidak bijaksana jika seorang guru biologi hanya menampilkan pertanyaa-pertanyaan yang tingkat kesukarannya sulit semua atau mudah semua.
Strategi pemberian pertanyaan dalam pembelajaran akan meningkatkan kualitas pembelajaran dan hasil belajar selama diberikan secara efektif dan proposional. Pemberian pertanyaan oleh guru semestinya dipersiapkan secara matang, tidak bersifat spontan. Selain itupun respon guru terhadap jawaban siswa harus bijaksana dan proporsional agar siswa nyaman dan mendapat manfaat respon dari guru tersebut.
5. Mendiagnosis dan Memberi Motivasi Belajar
Secara umum setiap siswa pasti mempunyai masalah- masalah yang berkaitan dengan emosi, baik disadari maupun tidak. Kadang-kadang hal ini secara tidak langsung mempengaruhi aktifitas, bahkan berpengaruh kepada kemampun mereka dalam belajar.
Beberapa hal yang diduga dapat mengakibatkan masalah-masalah yang berkaitan dengan emosi siswa diantaranya :
 Lingkungan belajar yang kurang kondusif, baik disekolah maupun dirumah
 “polusi “ social yang berasal dari lingkungan siswa yang berdampak terhadap pola sikap dan pola tidak siswa
 Pengalaman dalam lingkungaan dalam lingkungan keluarga, terutama yang negative dan kurang menguntungkan.
 Perubahan system nilai social yang terjadi dilingkungan keseharian siswa.
Semua penyebab tersebut diatas dapat mengakibatkan siswa tertekan jiwanya, selanjutnya mereka kurang atau bahkan tidak memiliki motivasi dalam belajar. Mereka seakan-akan tidak mempunyai kemampuan sama sekali untuk belajar, apalagi berkompetensi dengan teman-teman untuk memperoleh prestasi terbaik dalam belajar.
Akibat iringan dari keadaaan tersebut diatas, dikaikan dengan kegiatan belajar mengajar biologi , beberapa diantaranya adalah (i) siswa membolos untuk menghindari untuk pelajaran matematika (ii) siswa gagal dalam melakukan tugas-tugas matematika, (iii) siswa menolak untuk mengikuti kegiatan-kegiatan matematika.
Masalah rendahnya motivasi belajar matematika siswa dapat diakibatkan oleh beberapa hal antaranya adalah :
1) kegagalan yang berulang yang dialami oleh siswa dalam melakukan aktivitas-aktivitas yang berkaitan dengan biologi
2) pengalaman-pengalaman yang dialami oleh siswa yang berhubungan dengan ketidaknyaman dalam belajar
3) Ketidakserasian dalam berinteraksi antara siswa dengan siswa lain atau antara siswa dengan guru.
4) Kekeliruaan siswa dalam memaknai dan memahami nilai-nilai yang terkandung dalam biologi
Walaupun banyak siswa yang kurang atau tidak memiliki motivasi dalam belajar biologi, namun seharusnya kita berupaya menolong mereka dari kesulitan tesebut. Hal tersebut dapat diwujudkan jika guru memperlihatkan perhatian kepada siswa secara lebih intensif dan sungguh-sungguh, terutama secara individual sesuai dengan kebutuhan masing-masing, bersemangat dan bersungguh-sungguh dalam menyajikan materi matematika, memilih hal-hal yang menarik dan relevan dengan kehidupan siswa. Untuk itu, agar para siswa lebih termotivasi dan bersungguh-sungguh dalam belajar, guru seyoginya :
 Memperlihatkan betapa bermanfaatnya matematika bagi kehidupan melalui contoh-contoh penerapan matematika yang relevan dengan dunia keseharian siswa.
 Mengunakan teknik, metode, dan pendekatan pembelajaran yang tepat sesuai dengan karakteristik topic yang disajikan.
 Memanfaatkan teknik, metode, dan pendekatan yang bervariasi dalam pembelajaran agar tidak monoton.











BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Berdasakan hasil uraian diats maka dapat saya simpulkan bahwa Strategi mengajukan pertanyaan merupakan kegiatan yang sangat penting dalam kelancaran proses belajar mengajar, karena disana dapat diketahui sejauh mana materi yang dapat diterima oleh siswa dengan mengunakan konsep Tanya jawab. Dan juga dapat memperlihatkan kecendrungan siswa, dimana letak kesulitan siswa dalam belajar. Jika terdapat kesulitan bagi siswa dalam proses belajar, guru harus dapat mengukur kemampuan siswanya dengan demikian siswa yang mempunyai kemampuan kurang maka guru harus memberikan motivasi kepadanya, agar siswa tadi tidak menganggap dirinya tidak bisa dalam belajar, dengan cara menjelaskan pentingnya pelajaran matematika itu. Untuk mengetahui agar para siswa lebih termotivasi dan bersungguh-sungguh dalam belajar matematika guru seharusnya :
a. Mengunakan teknik, metode, dan pendekatan pembelajaran matematika yang sesuai dengan karakteristik topic yang disajikan.
b. Memanfaatkan teknik, metode dan pendekatan yang bervariasi dalam pembelajaran matematika agar tidak monoton.
Maka dengan demikian, kesulitan dalam belajar dapat teratasi dengan baik, baik bagi siswa itu sendiri maupun guru yang mengajarkannya
Saran
Dalam penulisan makalah ini, penulis mengemukakan saran :Hendaknya Guru sebelum mengajukan pertanyaan kepada siswa, guru terlebih dahulu mengetahui materi yang disampaikan, agar pertanyaan yang diajukan kepada siswa tidak keluar dari materi yang diajarkan.

DAFTAR PUSTAKA
Usman, M.U. (1997). Menjadi Guru Profesional. Rosda Karya : Bandung
H. Erman Suherman Ar, Drs., M.Pd., dkk. (2003). Strategi Pembelajaran.UPI: Bandung.
Soetomo. 1985. Teknik Penilaian Pendidikan, Bina Ilmu: Surabaya.
Soetomo, 1993. Dasar-dasar Interaksi Belajar-mengajar. Usaha Nasional: Surabaya.

artikel ocak bio III

PENGELOLAAN PEMBELAJARAN
(PENGELOLAAN KELAS)
Husen Hasan
Abstrack
Classroom management is the effort of teachers to create, maintain and develop a conducive learning climate (Udin S. Winataputra). Classroom management is one important skill to master teachers. Classroom management is different from the learning management. More emphasis on learning management planning activities, implementation, evaluation and follow-up in a lesson. While classroom management is more related to efforts to create and maintain optimal conditions. Classroom management need to be owned by teachers and students as prospective teachers, as this will assist in achieving their own learning goals. Classroom management is an activity carried out by teachers who aimed to create classroom conditions that allow ongoing learning process that is conducive and the maximum. One form of classroom management is arrangement seat, where arrangement seating needs to consider the physical environment in the classroom and also diversity characteristics of the students The purpose of writing this article is to discuss and learn about the management class. Method used in writing this article is a review of the literature or various results of the reference collection of books, textbooks, internet and various other sources that are obtained. A collection of reference are reviewed and the results loaded into an article or scientific work in the form of articles.
Key words: management, learning, class,
PENDAHULUAN

Upaya untuk mendidik siswa menguasai berbagai kompetensi sebagaimana menjadi orientasi dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi di Sekolah, tidak bisa dilepaskan dari arti penting faktor lingkungan sebagai kontekspembentukan pemahaman dan pemaknaannya; dan konteks tersebut ada lah kelas sebagai ruang psikologis dan sosiokultural. Akan tetapi sejauh yang bias dicermati dari berbagai hasil penelitian, persoalan tersebut masih sangat krusial dalam praktik pendidikan di Sekolah. Studi Nurkhoti’ah dan Kamari (2003) menemukan bahwa dalam pembelajaran di Sekolah seperti di bangku sekolah dasar, masih banyak guru yang belum menggunakan prinsip-prinsip pembelajaran secara optimal dan kegiatan di kelas masih banyak didominasi oleh guru. Bermula dari masalah ini pula, kemudian muncul persoalan-persoalan lain, seperti rendahnya prestasi belajar siswa. Dalam analisisnya terhadap rendahnya mutu pendidikan, Hidayanto dan Subijanto (2002), dan Wahyudi (2003) juga menunjuk pada faktor kurang tertatanya lingkungan kelas pembelajaran secara kondusif, sebagai penyebab lemahnya tingkat implementasi kurikulum.

Iklim kelas pembelajaran belum dikembangkan secara memadai, dan umumnya guru dan kepala sekolah belum mengenalnya. Mereka juga menyayangkan bahwa perhatian terhadap aspek ini agak terabaikan. Menurut mereka Hal ini biasa dilihat dari nihilnya wacana iklim lingkungan pembelajaran pada penataranpenataran guru, serta minimnya penelitian pada bidang ini di dunia pendidikan Indonesia. Dari hasil penelitian yang dilakukan, keduanya juga menemukan bukti bahwa terdapat korelasi yang kuat antara prestasi siswa di suatu kelas dengan suasana batin atau lingkungan psikososial yang tercipta di kelas tersebut. Karena itu menurut mereka, meskipun guru mempunyai kemampuan mengajar yang baik, tetapi jika tidak didukung oleh lingkungan kelas pembelajaran dan motivasi diri siswa yang merupakan aspekaspek dari lingkungan psiko-sosial kelas pembelajaran, maka hasil proses pembelajaran pun tidak akan optimal. Bahkan di Amerika, menurut mereka sekalipun berbagai perbaikan pendidikan telah dilakukan dengan menempuh berbagai bidang garapan, tetapi hasilnya belum memuaskan. Hal itu disebabkan diantaranya karena perbaikan-perbaikan itu belum atau hanya sedikit menyentuh aspek iklim kelas.

Selain itu penelitian-penelitian tentang pembelajaran juga masih terbatas pada kajian tentang pendekatan, metode, model pembelajaran. Karenanya, hasilnya pun menjadi sangat terbatas. Jangkauan penelitianya pun belum sampai pada upaya merumuskan dan mengembangkan dasar dasar pemikiran atau teoretik tentang pembelajaran dari suatu persepektif teoretik yang integratif, melihat pembelajaran sebagai integrasi antara dimensi psikologis, sosial dan kultural. Dengan demikian, penelitian ini merupakan hal baru yang mengikhtiarkan secara akademik ke arah penemuan dan sekaligus rekonstruksi teori pembelajaran yang psycho-socio-cultural-based”, khususnya dari perspektif “konstruktivisme”. Masalah penelitian adalah bagaimana pola penataan lingkungan pembelajaran, sehingga dapat memfasilitasi dan memediasi siswa menguasai struktur materi, membangun dan mengembangkan kompetensi atau kemampuan dasar, dan melakukan proses assimilasi, akomodasi, adaptasi, ekuilibrasi, dan rekonstruksi terhadap struktur internalnya.
METODE
Metode yang digunakan dalam penulisan artikel ini adalah menggunakan Library Research (penelitian kepustakaan) dimana artikel ini dibuat dengan menggunakan literature (kepustakaan) yaitu dari penulisan artikel atau hasil-hasil karya orang lain yang diambil dan dijadikan sebagai sumber referensi. Literature yang dimaksudkan adalah berasal dari berbagai buku dan referensi lain berupa tesis, skripsi, makalah, internet dan dan media-media lainnya yang diperoleh melalui perpustakaan, selanjutnya ditelaah dan menjadi sebuah hasil karya yang berupa artikel ini.

PEMBAHASAN
PENGELOLAAN PEMBELAJARAN (PENGELOLAAN KELAS)
A. Pengertian Pengelolaan Kelas
Menurut Suharsini Arikunto Pengelolaan (manajemen) dalam pengertian umum adalah pengadministrasian, pengaturan atau penataan suatu kegiatan. Sedangkan kelas menurut Oemar Hamalik adalah suatu kelompok orang yang melakukan kegiatan belajar bersama yang mendapat pengajaran dari guru. Pengelolaan kelas yang baik akan melahirkan interaksi belajar mengajar yang baik pula. Dengan kondisi belajar yang baik diharapkan proses belajar mengajar akan berlangsung dengan baik pula. Proses pembelajaran yang baik akan meminimalkan kemungkinan terjadinya kegagalan serta kesalahan dalam pembelajaran. Maka dari itu penting sekali bagi seorang guru memiliki kemampuan menciptakan kondisi belajar mengajar yang baik dan untuk mencapai tingkat efektivitas yang optimal dalam kegiatan instruksional kemampuan pengelolaan kelas merupakan salah satu faktor yang juga harus dikuasai oleh seorang guru, di samping faktorfaktor lainnya. Kemampuan tersebut yang kemudian disebut dengan kemampuan mengelola kelas.
Secara etimologis, pengelolaan kelas ialah usaha guru untuk menciptakan, memelihara dan mengembangkan iklim belajar yang kondusif (Udin S. Winataputra). Pengertian ini sejalan dengan pengertian yang dikemukakan oleh Winzer yang menyatakan bahwa pengelolaan kelas adalah cara-cara yang ditempuh guru dalam menciptakan lingkungan kelas agar tidak terjadi kekacauan dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk mencapai tujuan akademik dan social.
Menurut Purnomo, "Kelas adalah ruangan belajar (lingkungan fisik) dan rombongan belajar (lingkungan emosional)".
Lingkungan fisik meliputi :
 Ruangan,
 Keindahan kelas,
 Pengaturan tempat duduk,
 Pengaturan sarana dan alat pengajaran,
 Ventilasi dan pengaturan cahaya.
Sedangkan lingkungan sosio-emosional meliputi:
1) Tipe kepemimpinan guru,
2) Sikap guru,
3) Suara guru,
4) Pembinaan hubungan yang baik.

Menurut Winataputra (2003), menyatakan bahwa: Pengelolaan kelas adalah serangkaian kegiatan guru yang ditujukan untuk mendorong munculnya tingkah laku siswa yang diharapkan dan menghilangkan tingkah laku siswa yang tidak diharapkan, menciptakan hubungan interpersonal yang baik dan iklim sosoi- emosional yang positif , serta menciptakan dan memelihara organisasi kelas yang produktif dan efektif.
Akhmad Sudrajat (http://Akhmd sudrajat. wordpress.com), menyatakan bahwa: Pengelolaan kelas lebih berkaitan dengan upaya-upaya untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi yang optimal bagi terjadinya proses belajar (pembinaan rapport, penghentian perilaku peserta didik yang menyelewengkan perhatian kelas, pemberian ganjaran, penyelesaian tugas oleh peserta didik secara tepat waktu, penetapan norma kelompok yang produktif), didalamnya mencakup pengaturan orang (peserta didik) dan fasilitas.
Menurut Winzer (Winataputra, 1003: 9.9) menyatakan bahwa pengelolaan kelas adalah cara-cara yang ditempuh guru dalam menciptakan lingkungan kelas agar tidak terjadi kekacauan dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk mencapai tujuan akademis dan sosial.
Dari pendapat diatas maka dapat disimpulkan bahwa pengelolaan kelas adalah kegiatan yang dilakukan oleh guru yang ditujukan untuk menciptakan kondisi kelas yang memungkinkan berlangsungnya proses pembelajaran yang kondusif dan maksimal. Pengelolaan kelas ditekankan pada aspek pengaturan (management) lingkungan pembelajaran yaitu berkaitan dengan pengaturan orang (siswa) dan barang/ fasilitas. Kegiatan guru tersebut dapat berupa pengaturan kondisi dan fasilitas yang berada di dalam kelas yang diperlukan dalam proses pembelajaran diantaranya tempat duduk, perlengkapan dan bahan ajar, lingkungan kelas (cahaya, temperatur udara, ventilasi) dll.
Berbagai definisi tentang pengelolaan kelas yang dapat diterima oleh para ahli pendidikan, yaitu pengelolaan kelas didefisnisikan sebagai:
a) Perangkat kegiatan guru untuk mengembangkan tingkah laku siswa yang diinginkan dan menguragkan tingkah laku yang tidak diinginkan.
b) Seperangkat kegiatan guru untuk mengembangkan hubungan interpersonal yang baik dan iklim sosio emosional kelas yang positif.
c) Seperangkat kegiatan guru untuk menumbuhkan dan mempentahankan organisasi kelas yang efektif.
Dari ketiga definisi diatas, masing-masing mempunyai asumsi yang berbeda-beda. Para ahli menggabungkan ketiga dimensi itu menjadi definisi yang bersifat pluralistik, yaitu bahwa pengelolaan kelas sebagai seperangkat kegiatan untuk mengembangkan tingkah laku siswa yang diinginkan, menghubungkan interpersonal dan iklim sosio emosional yang positif serta mengembangkan dan mempertahankan organisasi kelas yang efektif. Kelas bukanlah sekedar ruangan dengan segala isinya yang bersifat statis dan pasif, namun kelas juga merupakan sarana berinteraksi antara siswa dengan siswa dan siswa dengan guru. Ciri utama kelas adalah pada aktivitasnya untuk dapat menjalankan aktivitas atau kegiatan pembelajaran yang dinamis perlu adanya suatu aktivitas pengelolaan kelas baik dan terencana. Keberhasilan mengajar seorang guru tidak hanya berkaitan langsung dengan proses belajar mengajar, misalnya tujuan yang jelas, menguasai materi, pemilihan metode yang tepat, penggunaan sarana, dan evaluasi yang tepat. Hal lain yang tidak kalah pentingnya adalah keberhasilan guru dalam mencegah timbulnya perilaku subyek didik yang mengganggu jalannya proses belajar mengajar, kondisi fisik belajar dan kemampuan mengelolanya.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, istilah pengelolaan diartikan dengan "penyelenggaraan, pengurusan". Sedangkan yang dimaksud dengan kelas adalah "tingkat, ruang tempat belajar di sekolah". dengan kata lain pengelolaan kelas diterjemahkan secara singkat sebagai suatu proses penyelenggaraan atau pengurusan ruang dimana dilakukan kegiatan belajar mengajar, dan untuk lebih jelasnya berikut pengertian pengelolaan kelas yang dikemukakan oleh Usman, bahwa "pengelolaan kelas adalah keterampilan guru untuk menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal dan mengembalikannya bila terjadi gangguan dalam proses belajar mengajar".
Menurut Wina Sanjaya bahwa pengelolaan kelas merupakan keterampilan guru menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal dan mengembalikannya manakala terjadi hal-hal yang dapat mengganggu suasana pembelajaran. Pendapat lain yang cukup menarik dalam buku Quantum Teaching tentang kelas, yaitu berfokus pada hubungan dinamis dalam lingkungan kelas yang mendirikan landasan dan kerangka untuk belajar. Beberapa pengertian pengelolaan kelas yang telah dikemukakan oleh para ahli di atas, dapatlah memberi suatu gambaran serta pemahaman yang jelas bahwa pengelolaan kelas merupakan suatu usaha menyiapkan kondisi yang optimal agar proses atau kegiatan belajar mengajar dapat berlangsung secara lancar.

B. Tujuan Pengelolaan Kelas
Menurut Usman (2003) pengelolaan kelas mempunyai dua tujuan yaitu tujuan umum dan tujuan khusus.
1) Tujuan umum pengelolaan kelas adalah menyediakan dan menggunakan fasilitas belajar untuk bermacam-macam kegiatan belajar mengajar agar mencapai hasil yang baik.
2) Tujuan khususnya adalah mengembangkan kemampuan siswa dalam menggunakan alat-alat belajar, menyediakan kondisi-kondisi yang memungkinkan siswa bekerja dan belajar, serta membantu siswa untuk memperoleh hasil yang diharapkan.
3) Tujuan pengelolaan kelas pada hakikatnya telah terkandung pada tujuan pendidikan dan secara umum tujuan pengelolaan kelas adalah penyediaan fasilitas bagi bermacam.macam kegiatan belajar siswa sehingga subjek didik terhindar dari permasalah mengganggu seperti siswa mengantuk, enggan mengerjakan tugas, terlambat masuk kelas, mengajukan pertanyaan aneh dan lain sebagainya.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tujuan pengelolaan kelas adalah menyediakan, menciptakan dan memelihara kondisi yang optimal di dalam kelas sehingga siswa dapat belajar dan bekerja dengan baik. Selain itu juga guru dapat mengembangkan dan menggunakan alat bantu belajar yang digunakan dalam proses belajar mengajar sehingga dapat membantu siswa dalam mencapai hasil belajar yang diinginkan.

C. Ketrampilan Mengelola Kelas
Keberhasilan mengajar seorang guru tidak hanya berkaitan langsung dengan proses belajar mengajar, misalnya tujuan yang jelas, menguasai materi, pemilihan metode yang tepat, penggunaan sarana, dan evaluasi yang tepat. Hal lain yang tidak kalah pentingnya adalah keberhasilan guru dalam mencegah timbulnya perilaku subyek didik yang mengganggu jalannya proses belajar mengajar, kondisi fisik belajar dan kemampuan mengelolanya. Oleh sebab itu kegiatan guru dapat dibagi menjadi dua, yaitu kegiatan pengelolaan pengajaran dan kegiatan pengelolaan kelas. Tujuan pengajaran yang tidak jelas, materi yang terlalu mudah atau terlalu sulit, urutan materi tidak sistematis, alat pembelajaran tidak tersedia, merupakan contoh masalah pembelajaran. Sedangkan subyek didik mengantuk, enggan mengerjakan tugas, terlambat masuk kelas, mengganggu teman lain, mengajukan pertanyaan aneh, tempat duduk banyak kutu busuk, ruang kelas kotor, merupakan contoh masalah pengelolaan kelas. Dan untuk penanggulangannya seorang guru harus dapat memberikan bimbingan sebab ini secara psikologis akan menarik keterlibatan siswa. Guru bisa memulainya dengan apa yang siswa sukai, bagaimana cara berpikir mereka dan bagaimana mereka menyikapi hal.hal yang terjadi dalam kehidupan mereka.

Untuk menunjang kegiatan belajar mengajar yang mengaktifkan siswa perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut :
1) Aksesbilitas : siswa mudah menjangkau alat dan sumber belajar.
2) Mobilitas : siswa dan guru mudah bergerak dari satu bagian ke bagian yang lain.
3) Interaksi : memudahkan terjadi interaksi antara diri siswa maupun antar Siswa
4) Variasi kerja siswa : memungkinkan siswa bekerja secara perorangan, berpasangan atau berkelompok. Pada intinya, kemampuan guru memilih strategi pengelolaan kelas yang tepat sangat tergantung pada kemampuannya menganalisis masalah kelas yang dihadapinya jika ia tepat meletakkan strategi tersebut maka proses belajar mengajar akan efektif.

D. Masalah-masalah Pengelolaan Kelas
Pada dasarnya kegiatan guru dikelas mencakup dua aspek utama, yaitu masalah pembelajaran dan masalah pengelolaan kelas. Berdasarkan definisi didepan, maka seorang guru akan berhadapan masalah individu dan masalah kelompok. Untuk dapat menyelesaikan masalah pengelolaan kelas yang efektif, maka guru harus mampu: mengidetifikasikan masalah yang bersifat individu dan kelompok, memahami berbagai pendekatan untuk menyelesaikan suatu permasalahan dan memilih pendekatan yang paling tepat untuk menyelesaikan masalah tersebut.
Masalah Individu
Asumsi yang mendasari, masalah individu adalah bahwa tingkah laku manusia itu mengarah pada pencapaian suatu tujuan. Setiap individu memiliki kebutuhan dasar untuk memiliki atau merasa dirinya berguna dan dibutuhkan. Jika individu gagal dalam mendapatkannya, maka Ia akan bertingkah laku secara berurutan dimulai dan yang paling ringan sampai denga yang paling berat.
Masalah Kelompok
Terdapat tujuh masalah kelompok yang berkaitan dngan pengelolaan kelas, yaitu:
1) Hubungan tidak harmonis,
2) Kekurangmampuan mengikuti peraturan kelompok,
3) Reaksi negatif terhadap sesama anggota kelompok,
4) Penerimaan kelompok atas tingkah laku yang menyimpang,
5) Penyimpangan anggota kelompok dafi ketentuan yang ditetapkan,
6) Tidak memiliki teman, tidak mau bekerja, atau bertingkah laku yang negatif,
7) Ketidakmampuan menyesuaikan diri terhadap perubahan lingkungan. Prosedur pengelolaan kelas dapat berupa:
 Tidakan Preventif
Tindakan preventi ini meliputi :Peningkatan kesadaran diri, Peningkatan kesadaran siswa, Inisialisasi sikap tulus dan guru, Mengenal dan menemukan suatu alternative
 Tindakan Kuratif
Tindakan ini meliputi :Pengidentifikasian, Membuat reneana, Menetapkan waktu pertemuan, Menjelaskan maksud pertemuan, Menunjukan bahwa guru pun bisa berbuat salah, Guru berusaha membawa siswa pada masalahnya, dan Bila pada pertemuan siswa tidak responsif, guru dapat mengajak siswa untuk berdiskusi. Adapun implikasi pengelolaan kelas terhadap pengembangan rencana program pembelajaran tergantung pada beberapa aspek, yaitu:
1. Karakteristik Siswa
Untuk dapat memperlancar proses belajar siswa, seorang guru perlu memperhatikan faktor yang terdapat pada diri siswa maupun faktor lingkungan yang perlu dimanipulasinya. Karakteristik siswa tensebut, meliputi:
a) Kemampuan Awal Siswa
Kemampuan awal siswa adalah kemampuan yang telah dimiliki oleh siswa sebelum ia mengikuti pelajaran yang akan diberikan. Kemampuan awal menggambarkan kesiapan siswa dalam menerima pelajaran yang akan disampaikan. Kemampuan awal siswa penting untuk diketahui guru sebelum memulai pembelajaran, karena dengan demikian dapat diketahui apakah siswa telah mempunyai pengetahuan awal yang merupakan prasyarat untuk mengikuti pembelajaran, sejauh mana siswa mengetahui materi apa yang akan disajikan. Kemampuan awal siswa dapat diukur melalui tes awal, interview, atau cara-cara lain yang cukup sederhana seperti melontarkan pertanyaan-pertanyaan secara acak dengan distribusi perwakilan siswa yang representatif.
b) Motivasi
Motivasi dapat didefinisikan sebagai tenaga pendorong yang menyebabkan adanya tingkah laku kearah suatu tujuan tertentu. Apabila siswa mempunyai motivasi yang tinggi, maka ia akan (1) memperlihatkan minat dan mempunyai perhatian, (2) bekerja keras dan inemberikan waktu pada usaha tersebut, (3) terus bekerja sampai tugas dapat diselesaikan. Berdasarkan sumbernya motivasi dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu: Motivasi instrinsik, yaitu motivasi yang datang dan dalam diii siswa, dan motivasi ekstninsik, yaitu motivasi yang datang dari luar din siswa. Dibawah mi diberikan saran-saran bagaimana guru dapat meningkatkan motivasi bagi siswa, yaitu:
1. Setiap materi perlu dibuat menarik
2. Setiap proses pembelajaran diusahan untuk membuat siswa aktif
3. Menerapkan teknik-teknik modifikasi tingkah laku untuk membantu siswa bekerja keras.
4. Memberikan petunjuk dan indikator pencapaian yang jelas.
5. Memperhitungkan perbedaan kemampuan individualantar siswa, latar belakang, dan sikap siswa terhadap sekolah atau mata pelajaran.
6. Mengusahakan untuk memenuhi kebutuhan defisiensi siswa, yaitu kebutuhan fsikologis, rasa aman, diakui oleh kelompoknya, serta penghargaan dengan jalan: memperhatikan kondisi fisik siswa, memberi rasa aman, menunjukan bahwa guru memperhatikan mereka, mengatur pengalaman belajar sehingga setiap siswa pernah memperoleh kepuasan dan penghargaan, mengarahkan pengalaman belajar kekeberhasilan dan membuat siswa tingkat aspirasi yang realistik, mempunyai orientasi pada prestasi, serta mempunyai konsep diri yang positif.
7. Mengusahakan agar terbentuk kebutuhan untuk berprestasi, rasa percaya diri.
8. Membuat siswa ingin menerapkan apa yang telah dipelajari dan ingin belajar lebih banyak lagi.
c). Perhatian
Didalam proses belajar mengajar, perhatian merupakan paktor yang besar pengaruhnya terhadap keberhasilan proses pembelajaran bagi siswa. Dengan perhatian dapat memuat siswa: mengarahkan din ketugas yang akan diberikan, melihat masalah-masalah yang akan diberikan, memilih dan membenikan fokus pada masalah yang hams diselesaikan, dan mengabaikan hal- hal yang tidak relevan. Cara-cara yang dapat dipakai guru untuk dapat menarik perhtian bagi siswa antara lain: Mengetahui minat siswa, memberikan pengarahan, menjelaskan tujuan-tujuan belajar, mengadakan tes awal atau kuis.

Pengelolaan kelas merupakan masalah yang amat kompleks dan seorang guru menggunakannya untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi kelas sedemikian rupa sehingga anak didik dapat mencapai tujuan pembelajaran yang ditetapkan secara efektif dan efisien. Pandangan mengenai pengelolaan kelas sebagaimana telah dikemukakan di atas intinya memiliki karakteristik yang sama, yaitu bahwa pengelolaan kelas merupakan sebuah upaya yang real untuk mewujudkan suatu kondisi proses atau kegiatan belajar mengajar yang efektif. Dengan pengelolaan kelas yang baik diharapkan dapat mendukung tercapainya tujuan pembelajaran di mana proses tersebut memberikan pengaruh positif yang secara langsung menunjang terselenggaranya proses belajar mengajar di kelas.

E. Pendekatan dalam Pengelolaan Kelas
Menurut James Cooper yang dikutip oleh Hendyat Soetopo mengemukakan tiga pendekatan dalam pengelolaan kelas, yaitu pendekatan modifikasi perilaku, pendekatan sosio-emosional, dan pendekatan proses kelompok. Berikut penjelasan ketiga pendekatan di atas adalah sebagai berikut :
1. Pendekatan Modifikasi Perilaku (Behavior-Modification Approach)
Pendekatan ini didasari oleh psikologi behavioral yang menganggap perilaku manusia yang baik maupun yang tidak baik merupakan hasil belajar. Oleh sebab itu perlu membentuk, mempertahankan perilaku yang dikehendaki dan mengurangi atau menghilangkan perilaku yang tidak dikehendaki. Berdasarkan pendekatan ini maka penulis dapat menyimpulkan bahwa dalam pendekatan modifikasi perilaku aktivitas di utamakan pada penguatan tingkah laku siswa yang baik maupun tingkah laku siswa yang kurang baik, dengan pendekatan ini diharapkan guru dapat merubah tingkah laku siswa sesuai dengan yang diharapkan oleh guru.
 Teknik-teknik yang dapat diterapkan adalah:
1) Penguatan negative
Penguatan negatif adalah pengurangan hingga penghilangan stimulus yang tidak menyenangkan untuk mendorong terulangnya perilaku yang diharapkan.
2) Penghapusan
Penghapusan adalah usaha mengubah tingkah laku subyek didik dengan cara menghentikan respon terhadap tingkah laku mereka yang semula dikuatkan oleh respon itu.
3) Hukuman
Yaitu penghentian secara langsung perilaku anak yang menyimpang. Sebenarnya penguatan negatif dan penghapusan merupakan hukuman yang tidak langsung. Dengan kata lain hukuman adalah pengajuan stimulus tidak menyenangkan untuk menghilangkan dengan segera tingkah laku subyek didik yang tidak diharapkan.

2. Pendekatan Iklim Sosio-Emosional (Socio-Emotional Climate Approach)
Pendekatan sosio-emosional bertolak dari psikologi klinis dan konseling. Pandangannya adalah bahwa proses belajar-mengajar yang berhasil mempersyaratkan hubungan sosio-emosional yang baik antara guru subyek didik. Dapat disimpulkan bahwa pendekatan ini mengutamakan pada hubungan yang baik antar personal di dalam kelas, baik itu guru dengan siswa maupun siswa dengan siswa, sehingga siswa merasa aman dan senang berada dalam kelas serta berpartisipasi dalam proses belajar mengajar dalam kelas. Dengan kata lain peran guru sangat penting dalam menciptakan iklim belajar yang kondusif dan guru diharapkan dapat merasakan apa yang dirasakan oleh siswa serta mampu menyikapinya secara demokratis
3. Pendekatan Proses Kelompok (Group-Process Approach)
Pendekatan proses kelompok berangkat dari psikologi sosial dan dinamika kelompok, dengan anggapan bahwa proses belajar-mengajar yang efektif dan efisien berlangsung dalam konteks kelompok. Untuk itu guru harus mengusahakan agar kelas menjadi suatu ikatan kelompok yang kuat.

Lain halnya dengan guru yang memperhatikan siswa, selalu terbuka, terhadap keluhan siswa, mau mendengarkan kesulitan belajar siswa, maupun selalu bersedia mendengarkan saran dan kritik dari siswa adalah guru yang disenangi oleh siswa. Siswa akan rindu dengan kehadirannya, siswa merasa nyaman disisinya, dan siswa merasa bahwa dirinya adalah keluarga bagi guru tersebut. Figur yang demikian ini biasanya akan sedikit sekali menemui kesulitan dalam mengelola kelas. Pengelolaan kelas yang dilakukan oleh guru seperti inilah yang diyakini berkorelasi positif dengan perubahan tingkah laku dan prestasi hasil belajar siswa. Dengan kata lain, menciptakan iklim kelas yang baik merupakan salah satu cara untuk meningkatkan efektivitas dan kualitas pembelajaran di kelas.
F. Penataan Ruang Kelas
Pembelajaran yang efektif dapat bermula dari iklim kelas yang dapat menciptakan suasana belajar yang menggairahkan, untuk itu perlu diperhatikan pengaturan/ penataan ruang kelas dan isinya, selama proses pembelajaran. Ruang kelas perlu ditata dengan baik sehingga memungkinkan terjadinya interaksi yang aktif antara siswa dengan guru, dan antar siswa. Sesuai dengan maksud pengelolaan kelas sendiri bahwa pengelolaan kelas merupakan upaya yang dilakukan oleh guru dalam menciptakan lingkungan pembelajaran yang kondusif, melalui kegiatan pengaturan siswa dan barang/ fasilitas. Selain itu pengelolaan kelas dimaksudkan untuk menciptakakan, memelihara tingkah laku siswa yang dapat mendukung proses pembelajaran. Maka dengan demikian pengelolaan kelas berupa penataan tempat duduk siswa sebagai bentuk pengelolaan kelas dapat membantu menciptakan proses pembelajaran yang sesuai dengan tujuan.
Ada beberapa prinsip yang perlu diperhatikan oleh guru dalam menata ruang kelas menurut Loisell (Winataputra, 2003: 9.22) yaitu:
1. Visibility ( Keleluasaan Pandangan)
Visibility artinya penempatan dan penataan barang-barang di dalam kelas tidak mengganggu pandangan siswa, sehingga siswa secara leluasa dapat memandang guru, benda atau kegiatan yang sedang berlangsung. Begitu pula guru harus dapat memandang semua siswa kegiatan pembelajaran.
2. Accesibility (mudah dicapai)
Penataan ruang harus dapat memudahkan siswa untuk meraih atau mengambil barang-barang yang dibutuhkan selama proses pembelajaran. Selain itu jarak antar tempat duduk harus cukup untuk dilalui oleh siswa sehingga siswa dapat bergerak dengan mudah dan tidak mengganggu siswa lain yang sedang bekerja.
3. Fleksibilitas (Keluwesan)
Barang-barang di dalam kelas hendaknya mudah ditata dan dipindahkan yang disesuaikan dengan kegiatan pembelajaran. Seperti penataan tempat duduk yang perlu dirubah jika proses pembelajaran menggunakan metode diskusi, dan kerja kelompok.
4. Kenyamanan
Kenyamanan disini berkenaan dengan temperatur ruangan, cahaya, suara, dan kepadatan kelas.
5. Keindahan
Prinsip keindahan ini berkenaan dengan usaha guru menata ruang kelas yang menyenangkan dan kondusif bagi kegiatan belajar. Ruangan kelas yang indah dan menyenangkan dapat berengaruh positif pada sikap dan tingkah laku siswa terhadap kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan. Penyusunan dan pengaturan ruang belajar hendaknya memungkinkan anak duduk bekelompok dan memudahkan guru bergerak secara leluasa untuk membantu dan memantau tingkah laku siswa dalam belajar. Dalam pengaturan ruang belajar, hal-hal berikut perlu diperhatikan menurut Conny Semawan,dkk. (udhiezx.wordpress: 3) yaitu:
1. Ukuran bentuk kelas
2. Bentuk serta ukuran bangku dan meja
3. Jumlah siswa dalam kelas
4. Jumlah siswa dalam setiap kelompok
5. Jumlah kelompok dalam kelas
6. Komposisi siswa dalam kelompok (seperti siswa yang pandai dan kurang pandai, pria dan wanita).
PENDAPAT PENULIS
Dengan memperhatikan berbagai defenisi menurut para ahli tentang pengelolaan pembelajaran (pengelolaan kelas), maka penulis dapat menuangkan pendapat yang terkait dengan pengelolaan kelas. Pengelolaan kelas pada dasarnya adalah merupakan cara-cara pedoman yang dilaksanakan oleh guru dalam menciptakan lingkungan kelas agar tidak terjadi keributan antarsiswa dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk mencapai tujuan akademik dan masyarakat. Oleh karena itu penulis selalu mengharapkan agar Lingkungan belajar yang aman, nyaman dan tertib, optimalisme merupakan harapan yang tinggi bagi penulis bakan bagi seluruh warga sekolah, kesehatan sekolah, serta kegiatan-kegiatan yang terpusat pada peserta didik merupakan hal yang dapat membangkitkan gairah, dan semangat siswa untuk belajar dengan baik. Pendekatan Proses Kelompok merupakan pengalaman belajar siswa didapat dari kegiatan kelompok di mana dalam kelompok terdapat norma-norma yang harus diikuti oleh anggotanya, terdapat tujuan yang ingin dicapai, adanya hubungan timbal balik antar anggota kelompok untuk mencapai tujuan, serta memelihara kelompok yang produktif.
PENUTUP
A. Kesimpulan
Pengelolaan kelas perlu dimiliki oleh guru maupun para mahasiswa sebagai calon guru, karena hal ini akan membantu dalam pencapaian tujuan pembelajaran sendiri. Pengelolaan kelas adalah kegiatan yang dilakukan oleh guru yang ditujukan untuk menciptakan kondisi kelas yang memungkinkan berlangsungnya proses pembelajaran yang kondusif dan maksimal. Salah satu bentuk pengelolaan kelas adalah penatan tempat duduk, dimana penatan tempat duduk perlu memperhatikan lingkungan fisik kelas dan juga keanekaragaman karakteristik siswa, mempertimbangkan kesesuaian metode yang digunakan oleh guru dengan tujuan akhir dari pembelajaran itu sendiri. Kondisi dan posisi tempat duduk dapat menentukan tingkat aktivitas belajar siswa di kelas. Hal tersebut sisebabkan karena tempat duduk yang nyaman akan membantu siswa untuk tenang dalam belajar dan apat pula menimbulkan gairah belajar siswa.
B. Saran
Dengan mengacu pada uraian yang terpampam pada judul artikel yang termuat pada halaman awal, penulis dapat menuangkan saran kepada guru sebagai pendidik maupun mahasiswa sebagai calon guru yang nantinya mempunyai tanggung jawab yang besar oleh karena itu perlu menjadi perhatian bagi guru dan bahkan mahasiswa sebagai calon pengajar bahwa keterampilan mengelola kelas salah satunya penataan tempat duduk harus dikuasai. Pengelolaan kelas menyangkut kepada menciptakan iklim atau kondisi belajar yang kondusif dan aksimal. Melalui penatan tempat duduk yang tepat diharapkan akan menfasilitasi siswa untuk belajar dengan aktif.
DAFTAR PUSTAKA
Akhmad Sudrajat. 2008. Teknik Pengelolaan Kelas. http://akhmadsudrajat.wordpress.com. Diakses tanggal 06 April 2011.
Anita Lie. 2007. Cooperative Learning (Memperaktikan Cooperatif Learning di Ruang-ruang Kelas). Jakarta: PT Grasindo
Usman, M.U. 2003. Menjadi Guru Profesional. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Udin S. Winataputra. 2003. Srategi Belajar mengajar. Jakarta: Universitas Terbuka Departemen Pendidikan Nasional
Udhiexz, 2008. Pengelolaan Kelas. http://udhiexz.wordpress.com/2008/05/27/pengelolaan-kelas. diakses tanggal 06 April 2011
MANFAAT SILABUS DAN RPP
Husen Hasan
Abstrack

Silabus adalah rencana pembelajaran pada suatu dan/atau kelompok mata pelajaran/tema tertentu yang mencakup standar kompetensi , kompetensi dasar, materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator, penilaian, alokasi waktu, dan sumber/bahan/alat belajar. Secara umum silabus dan RPP sangat bermanfaat bagi para peserta didik untuk menambah wawasan, pengetahuan, dan keterampilan dalam merencanakan mengimplementasi kurikulum tingkat satuan pendidikan dan memberikan penjelasan tentang prosedur dan cara menjabarkan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar yang terdapat dalam Standar Isi menjadi materi pokok, kegiatan pembelajaran, indikator, dan penilaian, serta menentukan sumber-sumber bahan pembelajaran.
Tujuan dari penulisan artikel ini adalah untuk membahas dan mengetahui tentang apa manfaat dan mengapa silabus perlu dikembangkan, bagaimana mekanisme pengembangan silabus, apa komponen dan format silabus, bagaimana menyusun pengalaman belajar, dan mengembangkan silabus berkelanjutan berupa rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). Metode yang digunakan dalam penulisan artikel ini adalah berupa telaah kepustakaan atau berbagai hasil kumpulan referensi dari buku-buku paket dan internet dan berbagai sumber lain yang yang didapat.

Kata kunci : silabus, rencana pembelajaran

PENDAHULUAN
Pemberlakuan Undang-undang No. 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah menuntut pelaksanaan otonomi daerah dan wawasan demokrasi yang lebih menyeluruh, tentunya hal ini juga menyangkut pengelolaan sumber daya manusia. Salah satu upaya untuk mengelola dan meningkatkan sumber daya manusia, pemerintah harus memiliki keperdulian untuk memperbaiki perencanaan, pengeloaan, dan penyelenggraan pendidikan di wilayahnya masing-masing. Selain itu tuntutan globalisasi dalam bidang pendidikan juga perlu dipertimbangkan agar hasil pendidikan nasional dapat bersaing dengan negara-negara maju. Upaya ke arah ini kini sudah mulai diwujudkan dengan diperkenalkannya konsep pengelolaan dan penyelenggaraan pendidikan dari sentralistik ke desentralistik.
Desentralisasi pengelolaan pendidikan ini diarahkan oleh Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, dan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 tahun 2005 (PP 19/2005) tentang Standar Nasional Pendidikan, landasan hukum tersebut mengamanatkan agar kurikulum pendidikan bagi pendidikan tingkat dasar dan tingkat menengah disusun oleh satuan pendidikan dengan mengacu kepada Standar Isi (SI) dan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) serta berpedoman pada panduan yang disusun oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP).
Hal ini harus diwujudkan dalam pengembangan silabus dan pelaksanaannya yang disesuaikan dengan tuntutan kebutuhan siswa, keadaan sekolah, dan kondisi daerah. Dengan demikian, daerah atau sekolah memiliki kewenangan untuk merancang dan menentukan hal - hal yang akan diajarkan, pengelolaan pengalaman belajar, cara mengajar, dan menilai keberhasilan suatu proses belajar dan mengajar. Seiring dengan adanya upaya untuk memberdayakan peran serta daerah dan masyarakat dalam pengelolaan pendidikan, Pemerintah telah memberlakukan otonomi dalam bidang pendidikan yang diwujudkan dalam PP No. 25 tahun 2000 pasal 2 ayat 2 yang menyatakan bahwa pemerintah (Pusat) memiliki kewenangan dalam menyusun kurikulum dan penilaian hasil belajar secara nasional, hal-hal yang berhubungan dengan implementasinya dikembangkan dan dikelola oleh pelaksana di daerah terutama di daerah tingkat II dan sekolah.
Pemerintah Pusat mengembangkan antara lain (1) Kompetensi Dasar dan materi pelajaran pokok, (2) kalender pendidikan dan jumlah jam belajar efektif setiap tahun dan pedoman-pedoman pelaksanaannya. Sementara para pengelola dan pengembang di daerah diharapkan dapat (1) mengembangkan menjabarkan kompetensi dan materi pelajaran pokok mengacu pada standar nasional, menyusun kurikulum muatan lokal (2) menyusun dan menetapkan petunjuk pelaksanaan kalender pendidikan dan jam belajar (3) menyusun dan menetapkan petunjuk pelaksanaan penilaian hasil belajar yang didasarkan pada ketetapan pemerintah secara nasional. Berdasarkan ketentuan di atas, daerah atau sekolah memiliki ruang gerak yang luas untuk melakukan modifikasi dan mengembangkan variasi penyelenggaraan pendidikan sesuai dengan keadaan, potensi, dan kebutuhan daerah serta kondisi siswa. Kebijakan di atas juga diharapkan dapat memenuhi tuntutan masyarakat melalui program reformasi yang menginginkan adanya perubahan mendasar dalam sistem pendidikan, baik secara konseptual maupun aturan-aturan pelaksanaannya.

PP NO 19 TAHUN 2005 Pasal 20; Rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) adalah rencana yang menggambarkan prosedur dan pengorganisasian pembelajaran untuk mencapai satu kompetensi dasar yang ditetapkan dalam Standar Isi dan dijabarkan dalam silabus. Lingkup Rencana Pembelajaran paling luas mencakup 1 (satu) kompetensi dasar yang terdiri atas 1 (satu) indikator atau beberapa indikator untuk 1 (satu) kali pertemuan atau lebih. Hal ini berarti daerah perlu menyusun silabus dengan cara melakukan penjabaran terhadap stándar kompetensi dan kompetensi dasar ke dalam bentuk silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran, yang memuat materi setempat yang relevan, serta penyusunan kurikulum daerah yang sesuai dengan kondisi, kebutuhan serta potensi setempat, yang kemudian dikenal dengan istilah Kurikulum Tingklat Satuan Pendidikan (KTSP).

METODE
Metode yang digunakan dalam penulisan artikel ini adalah menggunakan Library Research (penelitian kepustakaan) dimana artikel ini dibuat dengan menggunakan literature (kepustakaan) yaitu dari penulisan artikel atau hasil-hasil karya orang lain yang diambil dan dijadikan sebagai sumber referensi. Literatura yang dimaksudkan adalah berasala dari berbagai buku, tesis skripsi, makalah, internet dan dan media lainnya yang diperoleh melalui perpustakaan, selanjutnya ditelaah dan menjadi sebuah karya berupa artikel ini.








PEMBAHASAN
MANFAAT SILABUSDAN RPP
A. Pengertian Silabus
Silabus adalah rencana pembelajaran pada suatu dan/atau kelompok mata pelajaran/tema tertentu yang mencakup standar kompetensi , kompetensi dasar, materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator, penilaian, alokasi waktu, dan sumber/bahan/alat belajar. Silabus merupakan penjabaran standar kompetensi dan kompetensi dasar ke dalam materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian. Silabus merupakan seperangkat rencana dan pengaturan tentang kegiatan pembelajaran, pengelolaan kelas, dan penilaian hasil belajar. Silabus berisikan komponen pokok yang dapat menjawab pertanyaan berikut.:
(1) Kompetensi apa yang akan dikembangkan siswa?
(2) Bagaimana cara mengembangkannya?
(3) Bagaimana cara mengetahui bahwa kompetensi tersebut sudah dicapai siswa?

Beberapa manfaat dari silabus di antaranya:
1. Sebagai pedoman/acuan bagi pengembangan pembelajaran lebih lanjut, yaitu dalam penyusunan RPP, pengelolaan kegiatan pembelajaran, penyediaan sumber belajar, dan pengembangan sistem penilaian.
2. Memberikan gambaran mengenai pokok-pokok program yang akan dicapai
dalam suatu mata pelajaran.
3. Sebagai ukuran dalam melakukan penilaian keberhasilan suatu program
pembelajaran.
4. Dokumentasi tertulis (witten document) sebagai akuntabilitas suatu program
pembelajaran.





 Tujuan SILABUS

 Memberikan landasan pokok bagi guru dan siswa dalam mencapai kompetensi dasar dan indikator
 Memberi gambaran mengenai acuan kerja jangka pendek
 Karena disusun dengan menggunakan pendekatan sistem, memberi pengaruh terhadap pengembangan individu siswa. Karena dirancang secara matang sebelum pembelajaran, berakibat terhadap nurturant effect
B. Prinsip Pengembangan Silabus
1. Ilmiah, Keseluruhan materi dan kegiatan yang menjadi muatan dalam silabus harus benar dan dapat dipertanggungjawabkan secara keilmuan.
2. Relevan, Cakupan, kedalaman, tingkat kesukaran dan urutan penyajian materi dalam silabus sesuai dengan tingkat perkembangan fisik, intelektual, sosial, emosional, dan spritual peserta didik.
3. Sistematis. Komponen-komponen silabus saling berhubungan secara fungsional dalam mencapai kompetensi.
4. Konsisten. Adanya hubungan yang konsisten (ajeg, taat asas) antara kompetensi dasar, indikator, materi pokok, pengalaman belajar, sumber belajar, dan sistem penilaian.
5. Memadai. Cakupan indikator, materi pokok, pengalaman belajar, sumber belajar, dan sistem penilaian cukup untuk menunjang pencapaian kompetensi dasar.
6. Aktual dan Kontekstual. Cakupan indikator, materi pokok, pengalaman belajar, sumber belajar, dan sistem penilaian memperhatikan perkembangan ilmu, teknologi, dan seni mutakhir dalam kehidupan nyata, dan peristiwa yang terjadi.
7. Fleksibel. Keseluruhan komponen silabus dapat mengakomodasi keragaman peserta didik, pendidik, serta dinamika perubahan yang terjadi di sekolah dan tuntutan masyarakat.
8. Menyeluruh. Komponen silabus mencakup keseluruhan ranah kompetensi (kognitif, afektif, psikomotor).

C. Unit Waktu Silabus
1) Silabus mata pelajaran disusun berdasarkan seluruh alokasi waktu yang disediakan untuk mata pelajaran selama penyelenggaraan pendidikan di tingkat satuan pendidikan.
2) Penyusunan silabus memperhatikan alokasi waktu yang disediakan per semester, per tahun, dan alokasi waktu mata pelajaran lain yang sekelompok.
3) Implementasi pembelajaran per semester menggunakan penggalan silabus sesuai dengan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar untuk mata pelajaran dengan alokasi waktu yang tersedia pada struktur kurikulum. Khusus untuk SMK/MAK menggunakan penggalan silabus berdasarkan satuan kompetensi.
D. Pengembang Silabus
Pengembangan silabus dapat dilakukan oleh para guru secara mandiri atau berkelompok dalam sebuah sekolah atau beberapa sekolah, kelompok Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) pada atau Pusat Kegiatan Guru (PKG), dan Dinas Pendikan.
1. Disusun secara mandiri oleh guru apabila guru yang bersangkutan mampu mengenali karakteristik siswa, kondisi sekolah dan lingkungannya.
2. Apabila guru mata pelajaran karena sesuatu hal belum dapat melaksanakan pengembangan silabus secara mandiri, maka pihak sekolah dapat mengusahakan untuk membentuk kelompok guru mata pelajaran untuk mengembangkan silabus yang akan digunakan oleh sekolah tersebut.
3. Di SD/MI semua guru kelas, dari kelas I sampai dengan kelas VI, menyusun silabus secara bersama. Di SMP/MTs untuk mata pelajaran IPA dan IPS terpadu disusun secara bersama oleh guru yang terkait.
4. Sekolah yang belum mampu mengembangkan silabus secara mandiri, sebaiknya bergabung dengan sekolah-sekolah lain melalui forum MGMP/PKG untuk bersama-sama mengembangkan silabus yang akan digunakan oleh sekolah-sekolah dalam lingkup MGMP/PKG setempat.
5. Dinas Pendidikan setempat dapat memfasilitasi penyusunan silabus dengan membentuk sebuah tim yang terdiri dari para guru berpengalaman di bidangnya masing-masing.

E. Langkah-langkah Pengembangan Silabus dan Rencana PelaksanaanPembelajaran

Sebagaimana telah dikemukakan dalam uraian sebelumnya Silabus adalah rencana pembelajaran pada suatu dan/atau kelompok mata pelajaran/tema tertentu yang mencakup standar kompetensi, kompetensi dasar, materi pokok/pembelajaran, indikator, penilaian, alokasi waktu, dan sumber/bahan/alat belajar. Silabus merupakan penjabaran standar kompetensi dan kompetensi dasar ke dalam materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian. Mengembangkan silabus dilakukan melalui langkah-langkah sebagai berikut:
1. Mengkaji Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar
Mengkaji standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran sebagaimana tercantum pada Standar Isi, dengan memperhatikan hal-hal berikut:
a) urutan berdasarkan hierarki konsep disiplin ilmu dan/atau tingkat kesulitan materi, tidak harus selalu sesuai dengan urutan yang ada di Standar Isi
b) keterkaitan antara standar kompetensi dan kompetensi dasar dalam mata pelajaran;
c) keterkaitan antara standar kompetensi dan kompetensi dasar antar mata pelajaran.
2. Mengidentifikasi Materi Pokok/Pembelajaran
Mengidentifikasi materi pokok/pembelajaran yang menunjang pencapaian petensi dasar dengan mempertimbangkan:
a) Potensi peserta didik;
b) Relevansi dengan karakteristik daerah,
c) Tingkat perkembangan fisik, intelektual, emosional, sosial, dan spritual peserta didik;
d) Kebermanfaatan bagi peserta didik;
e) Struktur keilmuan;
f) Aktualitas, kedalaman, dan keluasan materi pembelajaran;
g) Relevansi dengan kebutuhan peserta didik dan tuntutan lingkungan; dan
h) Alokasi waktu.
3. Mengembangkan Kegiatan Pembelajaran
Kegiatan pembelajaran dirancang untuk memberikan pengalaman belajar yang melibatkan proses mental dan fisik melalui interaksi antarpeserta didik, peserta didik dengan guru, lingkungan, dan sumber belajar lainnya dalam rangka pencapaian kompetensi dasar. Pengalaman belajar yang dimaksud dapat terwujud melalui penggunaan pendekatan pembelajaran yang bervariasi dan berpusat pada peserta didik. Pengalaman belajar memuat kecakapan hidup yang perlu dikuasai peserta didik. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam mengembangkan kegiatan pembelajaran adalah sebagai berikut.
a. Kegiatan pembelajaran disusun untuk memberikan bantuan kepada para pendidik, khususnya guru, agar dapat melaksanakan proses pembelajaran secara profesional.
b. Kegiatan pembelajaran memuat rangkaian kegiatan yang harus dilakukan oleh peserta didik secara berurutan untuk mencapai kompetensi dasar.
c. Penentuan urutan kegiatan pembelajaran harus sesuai dengan hierarki konsep materi pembelajaran.
d. Rumusan pernyataan dalam kegiatan pembelajaran minimal mengandung dua unsur penciri yang mencerminkan pengelolaan pengalaman belajar siswa, yaitu kegiatan siswa dan materi.
4. Merumuskan Indikator Pencapaian Kompetensi
Indikator merupakan penanda pencapaian kompetensi dasar yang ditandai oleh perubahan perilaku yang dapat diukur yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan.
Indikator dikembangkan sesuai dengan karakteristik peserta didik, mata pelajaran, satuan pendidikan, potensi daerah dan dirumuskan dalam kata kerja operasional yang terukur dan/atau dapat diobservasi. Indikator digunakan sebagai dasar untuk menyusun alat penilaian.
5. Penentuan Jenis Penilaian
Penilaian pencapaian kompetensi dasar peserta didik dilakukan berdasarkan indikator. Penilaian dilakukan dengan menggunakan tes dan non tes dalam bentuk tertulis maupun lisan, pengamatan kinerja, pengukuran sikap, penilaian hasil karya berupa tugas, proyek dan/atau produk, penggunaan portofolio, dan penilaian diri.
Penilaian merupakan serangkaian kegiatan untuk memperoleh, menganalisis, dan menafsirkan data tentang proses dan hasil belajar peserta didik yang dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan, sehingga menjadi informasi yang bermakna dalam pengambilan keputusan. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penilaian.
a. Penilaian diarahkan untuk mengukur pencapaian kompetensi.
b. Penilaian menggunakan acuan kriteria; yaitu berdasarkan apa yang bisa dilakukan peserta didik setelah mengikuti proses pembelajaran, dan bukan untuk menentukan posisi seseorang terhadap kelompoknya.
c. Sistem yang direncanakan adalah sistem penilaian yang berkelanjutan. Berkelanjutan dalam arti semua indikator ditagih, kemudian hasilnya dianalisis untuk menentukan kompetensi dasar yang telah dimiliki dan yang belum, serta untuk mengetahui kesulitan siswa.
d. Hasil penilaian dianalisis untuk menentukan tindak lanjut. Tindak lanjut berupa perbaikan proses pembelajaran berikutnya, program remedi bagi peserta didik yang pencapaian kompetensinya di bawah kriteria ketuntasan, dan program pengayaan bagi peserta didik yang telah memenuhi kriteria ketuntasan.
e. Sistem penilaian harus disesuaikan dengan pengalaman belajar yang ditempuh dalam proses pembelajaran. Misalnya, jika pembelajaran menggunakan pendekatan tugas observasi lapangan maka evaluasi harus diberikan baik pada proses (keterampilan proses) misalnya teknik wawancara, maupun produk/hasil melakukan observasi lapangan yang berupa informasi yang dibutuhkan.
6. Menentukan Alokasi Waktu
Penentuan alokasi waktu pada setiap kompetensi dasar didasarkan pada jumlah minggu efektif dan alokasi waktu mata pelajaran per minggu dengan mempertimbangkan jumlah kompetensi dasar, keluasan, kedalaman, tingkat kesulitan, dan tingkat kepentingan kompetensi dasar. Alokasi waktu yang dicantumkan dalam silabus merupakan perkiraan waktu rerata untuk menguasai kompetensi dasar yang dibutuhkan oleh peserta didik yang beragam.
7. Menentukan Sumber Belajar
Sumber belajar adalah rujukan, objek dan/atau bahan yang digunakan untuk kegiatan pembelajaran, yang berupa media cetak dan elektronik, narasumber, serta lingkungan fisik, alam, sosial, dan budaya.
Penentuan sumber belajar didasarkan pada standar kompetensi dan kompetensi dasar serta materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi.
B. Contoh Format Silabus
Dalam menyusun silabus dapat memilih salah satu format yang ada di antara berbagai macam format yang berlaku.
SILABUS
Mata Pelajaan :.....................
Alokasi Waktu per Semester : ............. jam pelajaran
Kelas/Semester :..................................
Standar Kompetensi : .............................
Kompetensi Dasar Materi Pembelajaran Kegiatan Pembelajaran Indikator Penilaian Alokasi Waktu Sumber/ Bahan/Alat
Teknik Bentuk






Atau
SILABUS
Mata Pelajaan :.....................
Alokasi Waktu/Semester : ............. jam pelajaran
Kelas/Semester :..................................
Standar Kompetensi : .............................
Kompetensi Dasar Materi Pembelajaran Kegiatan Pembelajaran Indikator Penilaian Alokasi Waktu Sumber/ Bahan/
Alat
Teknik
Penilaian Bentuk
Penilaian Contoh Instrumen





Ada juga bentuk silabus yang dibuat dalam narasi tidak menggunakan bentuk matriks atau kolom seperti kedua contoh tersebut di atas.

C. Pengembangan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
Guru yang professional harus mampu mengembangkan rencana pembelajaran yang baik, logis dan sistematis. Karena disamping itu melaksanakan pembelajaran, persiapan tersebut mengemban professional accountability sehingga guru mampu mempertanggungjawabkan apa yang dilakukannya.
Cynthia (1993:113) megemukakan bahwa proses pembelajaran yang dimulai dengan fase pengembangan pembelajaran, ketika kompetensi dan metodologi diidentifikasi, akan membantu guru dalam mengoganisasikan materi standar, serta mengantisipasi peserta didik dan masalah-masalah yang mungkin timbul dalam pembelajaran, seorang guru akan mengalami hambatan dalam proses pembelajaran yang dilakukannya.
Rencana pembelajaran dapat mencerminkan apa yang dilakukan guru dala memberikan kemudahan belajar kepadda peserta didik, bagaimana cara melakukannya, dan mengapa seorag guru harus melakukan itu. Oleh karena itu, RPP dapat memiliki kedudukan yang esensial dalam pembelajaran yang efektif karena akan membantu membuat disiplin kerja yang baik, suasana yang lebih menarik, pembelajran yang diorganisasikan denga baik, relevan, dan akurat. Rencana pembelajaran merupakan hal penting yang harus dilakukan guru guna dapat menunjang pembentukan kompetensi dasar yang diinginkan. Dalam hal ini guru harus dapat mampu menjabarkan SKKD dalam bidangnya utuk jangka waktu satu tahun atau satu semester, beberapa minggu atau beberapa jam saja. Untuk satu tahun dan satu semester disebut sebagai program unit, sedangkan untuk beberapa jam pelajaran disebut sebagai RPP, yang dalam implementasinya KTSP memiliki kompenen kompetensi dasar, materi standar, pengalaman belajar, metode mengajar, dan penilaian berbasis kelas.
Anderson (1989:47) membedakan perencanaan dalam dua kategori, yaitu perencanaan jangka panjang dan jangka pendek. Perencanaan jangka panjang dapat disebut dengan unit plants, merupakan perencanaan yang bersifat komperenhensif dimana dapat dilihat aktivitas yang direncanakan guru selama satu semester. Perencanaan umum ini memerlukan uraian yang lebih rinci dalam perencanaan jangka pendek yang disebut dengan rencana pembelajaran. Dalam rencana pemebelajaran, guru dapat memodifikasi perencanaan umum yang telah dibuatnya, disesuaikan dengan kondisi kelas dan karakteristik peserta didik.
Disamping itu, perlu ditetapkan pula fokus kompetensi yang diharapkan dari peserta didik sebagai hasil akhir pembelajaran. Kompetensi ini Juga akan menjadi pedoman bagi guru dalam menetukan materi standar yang akan digunakan dan pendekatan pembelajaran yang tepat untuk membentuk kompetensi peserta didik. Setelah kompetensi diidntifikasi, guru membuat keputusan tentang pendeatan pembelajaran. Pendekatan pembelajaran dipilih dengan mempertimbangkan berbagai factor seperti kompetensi dasar, motivasi peserta didik, prosedur untuk membentuk kompetensi peserta didik dan menetapkan perangkat pembelajaran, serta cara-cara alternatif untk mengembangan kompetensi dasar.
Gagne dan Briggs (1998) mengisyaratkan bahwa dal mengembangkan rencana pembelajaran untuk meningkatkan kualitas pembelajaran perlu memerhatikan empat asumsi sebagai berikut:
1. Rencana pemebelajaran perlu dikembangkan dengan baik dan menggunakan pendekatan sistem. Pengembangan rencana pembelajaran dipengaruhi oleh teori-teori yang melandasinya dan langkah-langkah yang ditempuh dalam proses pembuatannya. Gagne merumuskan bahwa system pembelajaran merupakan serangaian peristiwa yang adapat mempengaruhi peserta didik sehingga terjadi proses belajar pada dirinya demi tercapai atau dikuasainya suatu kompetensi. Proses pembelajaran di pandang sebagai suatu system karena memiliki sejumlah kompenen yang ang berinteraksi dan berinterelasi, memiliki fungsi masing-masing untuk mencapai tujuan pembelajaran dan membentuk potensi peserta didik.
2. Renana pembelajaan harus dikembangkan berasarkan pengetahuan peserta didik. Kualitas rencana pembelajaran banyak bergantung pada bagaimana rancanngan tersebut dibuat, apakah bersifat ilmiah, intutif atau keduanya. Rencana pembelajaran harus dikembangkan secara ilmiah berdasarkan pengetahuan peserta didik, yaitu teori-teori belajar dan pembelajaran yang telah diuji coba dan diteliti oleh para ahli ilmu pendidikan. Uraian tersebut diatas mengisyaratkan bahwa guru professional perlu memiliki pengetahuan mengenai teori-teori belajar dan pembelajaran, serta harus memiliki kemampuan membuat RPP dengan baik dan efektif.
3. Renana pembelajaan harus dikembangkan untuk memudahkan peserta didik belajar dan membentuk kompetensi dirinya. Meskipun prose pembelajaran dilakukan secara klasikal, pada hakekatnya belajar itu bersifat individual. Oleh karena itu, dalam mengembangkan RPP perlu mempertimbankan karakteristik peserta didik disamping unsur-unsur yang lain, seperti kompetensi dasar, materi standard an strategi yang digunakan untuk membentuk kompetensi peserta didik.
4. Rencana pembelajaan hendaknya tidak dibuat asal-asalan, apalagi hanya untuk memenuhi syarat administrasi. Asumsi yang keempat ini bersifat menegaska akan pentingnya asumsi pertama dan kedua, yakni bahwa program satuan pelajaran harus disusun sesuai dengan prosedur ilmiah.
Landasan penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran terdapat pada: PP NO 19 tahun 2005 Pasal 20 Perencanaan proses pembelajaran meliputi silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran yang memuat sekurang-kurangnya tujuan pembelajaran, materi ajar, metode pengajaran, sumber belajar, dan penilaian hasil belajar. Rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) adalah rencana yang menggambarkan prosedur dan pengorganisasian pembelajaran untuk mencapai satu kompetensi dasar yang ditetapkan dalam Standar Isi dan dijabarkan dalam silabus. Lingkup Rencana Pembelajaran paling luas mencakup 1 (satu) kompetensi dasar yang terdiri atas 1 (satu) indikator atau beberapa indikator untuk 1 (satu) kali pertemuan atau lebih.
Penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran terdiri dari langkah-langkah sebagai berikut:
1. Mengisi kolom identitas
2. Menentukan alokasi waktu yang dibutuhkan untuk pertemuan yang telah ditetapkan
3. Menentukan SK, KD, dan Indikator yang akan digunakan yang terdapat pada silabus yang telah disusun
4. Merumuskan tujuan pembelajaran berdasarkan SK, KD, dan Indikator yang telah ditentukan Mengidentifikasi materi ajar berdasarkan materi pokok/ pembelajaran yang terdapat dalam silabus. Materi ajar merupakan uraian dari materi pokok/pembelajaran
5. Menentukan metode pembela-jaran yang akan digunakan
6. Merumuskan langkah-langkah pembelajaran yang terdiri dari kegiatan awal, inti, dan akhir.
7. Menentukan alat/bahan/ sumber belajar yang digunakan
8. Menyusun kriteria penilaian, lembar pengamatan, contoh soal, teknik penskoran, dll
D. Format Renacana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
Adapun format dan komponen yang terdapat pada rencana pelaksanaan pembelajaran atau RPP dapat dilihat uraian berikut:

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
Mata Pelajaran : …..................................................
Kelas/Semester : …..................................................
Pertemuan Ke- : …....................................................
Alokasi Waktu : …....................................................
Standar Kompetensi : ….....................................................
Kompetensi Dasar : …......................................................
Indikator : ……………………………...................
Tujuan Pembelajaran :….......................................................
Materi Ajar :…........................................................
Metode pembelajaran :……....................................................
Langkah-langkah Pembelajaran :.................................................
- Kegiatan awal
- Kegiatan Inti
- Kegiatan Penutup
Sumber Belajar :………………………….......................
Penilaian Hasil Belajar :……………………………………………
Mengetahui Kota,........................ 2007
Kepala Sekolah/Madrasah Guru Mapel...................

.................................... ..........................................
NIP.............................. NIP...................................


 Pendapat Pribadi
Menurut saya silabus dan RPP itu disusun berdasarkan prinsip yang berorientasi pada pencapaian kompetensi dan sistem penilaian mata pelajaran harus disusun sesuai dengan kebutuhan daerah atau sekolah tersebut sehingga silabus dan RPP tersebut bener-benar menjadi pedoman guru dalam mengembangkan pembelajaran di sekolah dan pengorganisasiannya ke seluruh komponen yang dapat mengubah perilaku peserta didik. RPP harus memperhatikan minat dan perhatian peserta didik terhadap materi yang dijadikan bahan kajian. Dalam hal ini peran guru bukan hanya sebagai transformator saja, akan tetapi harus berperan sebagai motivator yang dapat membangkitkan gairah belajar, serta mendorong siswa untuk belajar dengan menggunakan berbagai variasi media, dan sumber belajar yang sesuai serta menunjang pembentukan kompetensi.
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil uraian dan pembahasan pada pokok bahasan yang termuat dalam artikel ini dapat saya simpulkan bahwa Pemberlakuan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan menuntut guru untuk mampu membuat administrasi pembelajaran yang berbeda dengan kurikulum sebelumnya. Setelah sekolah menetapkan KTSP maka guru wajib menjabarkan Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan kedalam bentuk Silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran. Silabus harus disusun secara sistematis dan berisikan komponen-komponen yang saling berkaitan untuk memenuhi target pencapaian kompetensi dasar. Bentuk silabus sebenarnya dapat bervariasi dan dapat dikembangkan sendiri oleh sekolah. Komponen yang minimal harus terdapat dalam sebuah silabus ialah kompetensi dasar, hasil belajar, indikator, materi pokok, pengalaman belajar, alokasi waktu, sumber/alat/bahan, dan penilaian. Format silabus dapat dibuat dalam bentuk narasi maupun kolom/matriks. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran merupakan kelanjutan yang harus dibuat guru berdasarkan silabus yang telah dibuat dalam pelaksanaan pembelajaran di kelas.

B. Saran
Disrankan kepada pengasuh mata kuliah berhubung karena penulis mengalami hambatan dalam penulisan artikel di bagian abstraknya kalau boleh artikel selanjutnya tidak perlu menggunakan bahasa inggris, karena menurut saya, sewaktu orang membacanya akan kurang mengerti maksud dan tujuannya karena ada kekurangan keahlian bahasa asing.









DAFTAR PUSTAKA
Permendiknas 22, 23 dan 24 Tahun 2006
Hasil Rakor Kasi Mapenda Depag RI Tanggal 18 s.d. 20 Nopember 2006 di Bogor
Materi Diklat Fasilitator Guru Mapel SD, SMP dan SMA LPMP DKI Jakarta Tanggal 20 s.d. 29 Maret 2007





MANFAAT SILABUS DAN RPP
Husen Hasan
Abstrack

Silabus adalah rencana pembelajaran pada suatu dan/atau kelompok mata pelajaran/tema tertentu yang mencakup standar kompetensi , kompetensi dasar, materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator, penilaian, alokasi waktu, dan sumber/bahan/alat belajar. Secara umum silabus dan RPP sangat bermanfaat bagi para peserta didik untuk menambah wawasan, pengetahuan, dan keterampilan dalam merencanakan mengimplementasi kurikulum tingkat satuan pendidikan dan memberikan penjelasan tentang prosedur dan cara menjabarkan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar yang terdapat dalam Standar Isi menjadi materi pokok, kegiatan pembelajaran, indikator, dan penilaian, serta menentukan sumber-sumber bahan pembelajaran.
Tujuan dari penulisan artikel ini adalah untuk membahas dan mengetahui tentang apa manfaat dan mengapa silabus perlu dikembangkan, bagaimana mekanisme pengembangan silabus, apa komponen dan format silabus, bagaimana menyusun pengalaman belajar, dan mengembangkan silabus berkelanjutan berupa rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). Metode yang digunakan dalam penulisan artikel ini adalah berupa telaah kepustakaan atau berbagai hasil kumpulan referensi dari buku-buku paket dan internet dan berbagai sumber lain yang yang didapat.

Kata kunci : silabus, rencana pembelajaran

PENDAHULUAN
Pemberlakuan Undang-undang No. 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah menuntut pelaksanaan otonomi daerah dan wawasan demokrasi yang lebih menyeluruh, tentunya hal ini juga menyangkut pengelolaan sumber daya manusia. Salah satu upaya untuk mengelola dan meningkatkan sumber daya manusia, pemerintah harus memiliki keperdulian untuk memperbaiki perencanaan, pengeloaan, dan penyelenggraan pendidikan di wilayahnya masing-masing. Selain itu tuntutan globalisasi dalam bidang pendidikan juga perlu dipertimbangkan agar hasil pendidikan nasional dapat bersaing dengan negara-negara maju. Upaya ke arah ini kini sudah mulai diwujudkan dengan diperkenalkannya konsep pengelolaan dan penyelenggaraan pendidikan dari sentralistik ke desentralistik.
Desentralisasi pengelolaan pendidikan ini diarahkan oleh Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, dan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 tahun 2005 (PP 19/2005) tentang Standar Nasional Pendidikan, landasan hukum tersebut mengamanatkan agar kurikulum pendidikan bagi pendidikan tingkat dasar dan tingkat menengah disusun oleh satuan pendidikan dengan mengacu kepada Standar Isi (SI) dan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) serta berpedoman pada panduan yang disusun oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP).
Hal ini harus diwujudkan dalam pengembangan silabus dan pelaksanaannya yang disesuaikan dengan tuntutan kebutuhan siswa, keadaan sekolah, dan kondisi daerah. Dengan demikian, daerah atau sekolah memiliki kewenangan untuk merancang dan menentukan hal - hal yang akan diajarkan, pengelolaan pengalaman belajar, cara mengajar, dan menilai keberhasilan suatu proses belajar dan mengajar. Seiring dengan adanya upaya untuk memberdayakan peran serta daerah dan masyarakat dalam pengelolaan pendidikan, Pemerintah telah memberlakukan otonomi dalam bidang pendidikan yang diwujudkan dalam PP No. 25 tahun 2000 pasal 2 ayat 2 yang menyatakan bahwa pemerintah (Pusat) memiliki kewenangan dalam menyusun kurikulum dan penilaian hasil belajar secara nasional, hal-hal yang berhubungan dengan implementasinya dikembangkan dan dikelola oleh pelaksana di daerah terutama di daerah tingkat II dan sekolah.
Pemerintah Pusat mengembangkan antara lain (1) Kompetensi Dasar dan materi pelajaran pokok, (2) kalender pendidikan dan jumlah jam belajar efektif setiap tahun dan pedoman-pedoman pelaksanaannya. Sementara para pengelola dan pengembang di daerah diharapkan dapat (1) mengembangkan menjabarkan kompetensi dan materi pelajaran pokok mengacu pada standar nasional, menyusun kurikulum muatan lokal (2) menyusun dan menetapkan petunjuk pelaksanaan kalender pendidikan dan jam belajar (3) menyusun dan menetapkan petunjuk pelaksanaan penilaian hasil belajar yang didasarkan pada ketetapan pemerintah secara nasional. Berdasarkan ketentuan di atas, daerah atau sekolah memiliki ruang gerak yang luas untuk melakukan modifikasi dan mengembangkan variasi penyelenggaraan pendidikan sesuai dengan keadaan, potensi, dan kebutuhan daerah serta kondisi siswa. Kebijakan di atas juga diharapkan dapat memenuhi tuntutan masyarakat melalui program reformasi yang menginginkan adanya perubahan mendasar dalam sistem pendidikan, baik secara konseptual maupun aturan-aturan pelaksanaannya.

PP NO 19 TAHUN 2005 Pasal 20; Rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) adalah rencana yang menggambarkan prosedur dan pengorganisasian pembelajaran untuk mencapai satu kompetensi dasar yang ditetapkan dalam Standar Isi dan dijabarkan dalam silabus. Lingkup Rencana Pembelajaran paling luas mencakup 1 (satu) kompetensi dasar yang terdiri atas 1 (satu) indikator atau beberapa indikator untuk 1 (satu) kali pertemuan atau lebih. Hal ini berarti daerah perlu menyusun silabus dengan cara melakukan penjabaran terhadap stándar kompetensi dan kompetensi dasar ke dalam bentuk silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran, yang memuat materi setempat yang relevan, serta penyusunan kurikulum daerah yang sesuai dengan kondisi, kebutuhan serta potensi setempat, yang kemudian dikenal dengan istilah Kurikulum Tingklat Satuan Pendidikan (KTSP).

METODE
Metode yang digunakan dalam penulisan artikel ini adalah menggunakan Library Research (penelitian kepustakaan) dimana artikel ini dibuat dengan menggunakan literature (kepustakaan) yaitu dari penulisan artikel atau hasil-hasil karya orang lain yang diambil dan dijadikan sebagai sumber referensi. Literatura yang dimaksudkan adalah berasala dari berbagai buku, tesis skripsi, makalah, internet dan dan media lainnya yang diperoleh melalui perpustakaan, selanjutnya ditelaah dan menjadi sebuah karya berupa artikel ini.








PEMBAHASAN
MANFAAT SILABUSDAN RPP
A. Pengertian Silabus
Silabus adalah rencana pembelajaran pada suatu dan/atau kelompok mata pelajaran/tema tertentu yang mencakup standar kompetensi , kompetensi dasar, materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator, penilaian, alokasi waktu, dan sumber/bahan/alat belajar. Silabus merupakan penjabaran standar kompetensi dan kompetensi dasar ke dalam materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian. Silabus merupakan seperangkat rencana dan pengaturan tentang kegiatan pembelajaran, pengelolaan kelas, dan penilaian hasil belajar. Silabus berisikan komponen pokok yang dapat menjawab pertanyaan berikut.:
(1) Kompetensi apa yang akan dikembangkan siswa?
(2) Bagaimana cara mengembangkannya?
(3) Bagaimana cara mengetahui bahwa kompetensi tersebut sudah dicapai siswa?

Beberapa manfaat dari silabus di antaranya:
1. Sebagai pedoman/acuan bagi pengembangan pembelajaran lebih lanjut, yaitu dalam penyusunan RPP, pengelolaan kegiatan pembelajaran, penyediaan sumber belajar, dan pengembangan sistem penilaian.
2. Memberikan gambaran mengenai pokok-pokok program yang akan dicapai
dalam suatu mata pelajaran.
3. Sebagai ukuran dalam melakukan penilaian keberhasilan suatu program
pembelajaran.
4. Dokumentasi tertulis (witten document) sebagai akuntabilitas suatu program
pembelajaran.





 Tujuan SILABUS

 Memberikan landasan pokok bagi guru dan siswa dalam mencapai kompetensi dasar dan indikator
 Memberi gambaran mengenai acuan kerja jangka pendek
 Karena disusun dengan menggunakan pendekatan sistem, memberi pengaruh terhadap pengembangan individu siswa. Karena dirancang secara matang sebelum pembelajaran, berakibat terhadap nurturant effect
B. Prinsip Pengembangan Silabus
1. Ilmiah, Keseluruhan materi dan kegiatan yang menjadi muatan dalam silabus harus benar dan dapat dipertanggungjawabkan secara keilmuan.
2. Relevan, Cakupan, kedalaman, tingkat kesukaran dan urutan penyajian materi dalam silabus sesuai dengan tingkat perkembangan fisik, intelektual, sosial, emosional, dan spritual peserta didik.
3. Sistematis. Komponen-komponen silabus saling berhubungan secara fungsional dalam mencapai kompetensi.
4. Konsisten. Adanya hubungan yang konsisten (ajeg, taat asas) antara kompetensi dasar, indikator, materi pokok, pengalaman belajar, sumber belajar, dan sistem penilaian.
5. Memadai. Cakupan indikator, materi pokok, pengalaman belajar, sumber belajar, dan sistem penilaian cukup untuk menunjang pencapaian kompetensi dasar.
6. Aktual dan Kontekstual. Cakupan indikator, materi pokok, pengalaman belajar, sumber belajar, dan sistem penilaian memperhatikan perkembangan ilmu, teknologi, dan seni mutakhir dalam kehidupan nyata, dan peristiwa yang terjadi.
7. Fleksibel. Keseluruhan komponen silabus dapat mengakomodasi keragaman peserta didik, pendidik, serta dinamika perubahan yang terjadi di sekolah dan tuntutan masyarakat.
8. Menyeluruh. Komponen silabus mencakup keseluruhan ranah kompetensi (kognitif, afektif, psikomotor).

C. Unit Waktu Silabus
1) Silabus mata pelajaran disusun berdasarkan seluruh alokasi waktu yang disediakan untuk mata pelajaran selama penyelenggaraan pendidikan di tingkat satuan pendidikan.
2) Penyusunan silabus memperhatikan alokasi waktu yang disediakan per semester, per tahun, dan alokasi waktu mata pelajaran lain yang sekelompok.
3) Implementasi pembelajaran per semester menggunakan penggalan silabus sesuai dengan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar untuk mata pelajaran dengan alokasi waktu yang tersedia pada struktur kurikulum. Khusus untuk SMK/MAK menggunakan penggalan silabus berdasarkan satuan kompetensi.
D. Pengembang Silabus
Pengembangan silabus dapat dilakukan oleh para guru secara mandiri atau berkelompok dalam sebuah sekolah atau beberapa sekolah, kelompok Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) pada atau Pusat Kegiatan Guru (PKG), dan Dinas Pendikan.
1. Disusun secara mandiri oleh guru apabila guru yang bersangkutan mampu mengenali karakteristik siswa, kondisi sekolah dan lingkungannya.
2. Apabila guru mata pelajaran karena sesuatu hal belum dapat melaksanakan pengembangan silabus secara mandiri, maka pihak sekolah dapat mengusahakan untuk membentuk kelompok guru mata pelajaran untuk mengembangkan silabus yang akan digunakan oleh sekolah tersebut.
3. Di SD/MI semua guru kelas, dari kelas I sampai dengan kelas VI, menyusun silabus secara bersama. Di SMP/MTs untuk mata pelajaran IPA dan IPS terpadu disusun secara bersama oleh guru yang terkait.
4. Sekolah yang belum mampu mengembangkan silabus secara mandiri, sebaiknya bergabung dengan sekolah-sekolah lain melalui forum MGMP/PKG untuk bersama-sama mengembangkan silabus yang akan digunakan oleh sekolah-sekolah dalam lingkup MGMP/PKG setempat.
5. Dinas Pendidikan setempat dapat memfasilitasi penyusunan silabus dengan membentuk sebuah tim yang terdiri dari para guru berpengalaman di bidangnya masing-masing.

E. Langkah-langkah Pengembangan Silabus dan Rencana PelaksanaanPembelajaran

Sebagaimana telah dikemukakan dalam uraian sebelumnya Silabus adalah rencana pembelajaran pada suatu dan/atau kelompok mata pelajaran/tema tertentu yang mencakup standar kompetensi, kompetensi dasar, materi pokok/pembelajaran, indikator, penilaian, alokasi waktu, dan sumber/bahan/alat belajar. Silabus merupakan penjabaran standar kompetensi dan kompetensi dasar ke dalam materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian. Mengembangkan silabus dilakukan melalui langkah-langkah sebagai berikut:
1. Mengkaji Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar
Mengkaji standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran sebagaimana tercantum pada Standar Isi, dengan memperhatikan hal-hal berikut:
a) urutan berdasarkan hierarki konsep disiplin ilmu dan/atau tingkat kesulitan materi, tidak harus selalu sesuai dengan urutan yang ada di Standar Isi
b) keterkaitan antara standar kompetensi dan kompetensi dasar dalam mata pelajaran;
c) keterkaitan antara standar kompetensi dan kompetensi dasar antar mata pelajaran.
2. Mengidentifikasi Materi Pokok/Pembelajaran
Mengidentifikasi materi pokok/pembelajaran yang menunjang pencapaian petensi dasar dengan mempertimbangkan:
a) Potensi peserta didik;
b) Relevansi dengan karakteristik daerah,
c) Tingkat perkembangan fisik, intelektual, emosional, sosial, dan spritual peserta didik;
d) Kebermanfaatan bagi peserta didik;
e) Struktur keilmuan;
f) Aktualitas, kedalaman, dan keluasan materi pembelajaran;
g) Relevansi dengan kebutuhan peserta didik dan tuntutan lingkungan; dan
h) Alokasi waktu.
3. Mengembangkan Kegiatan Pembelajaran
Kegiatan pembelajaran dirancang untuk memberikan pengalaman belajar yang melibatkan proses mental dan fisik melalui interaksi antarpeserta didik, peserta didik dengan guru, lingkungan, dan sumber belajar lainnya dalam rangka pencapaian kompetensi dasar. Pengalaman belajar yang dimaksud dapat terwujud melalui penggunaan pendekatan pembelajaran yang bervariasi dan berpusat pada peserta didik. Pengalaman belajar memuat kecakapan hidup yang perlu dikuasai peserta didik. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam mengembangkan kegiatan pembelajaran adalah sebagai berikut.
a. Kegiatan pembelajaran disusun untuk memberikan bantuan kepada para pendidik, khususnya guru, agar dapat melaksanakan proses pembelajaran secara profesional.
b. Kegiatan pembelajaran memuat rangkaian kegiatan yang harus dilakukan oleh peserta didik secara berurutan untuk mencapai kompetensi dasar.
c. Penentuan urutan kegiatan pembelajaran harus sesuai dengan hierarki konsep materi pembelajaran.
d. Rumusan pernyataan dalam kegiatan pembelajaran minimal mengandung dua unsur penciri yang mencerminkan pengelolaan pengalaman belajar siswa, yaitu kegiatan siswa dan materi.
4. Merumuskan Indikator Pencapaian Kompetensi
Indikator merupakan penanda pencapaian kompetensi dasar yang ditandai oleh perubahan perilaku yang dapat diukur yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan.
Indikator dikembangkan sesuai dengan karakteristik peserta didik, mata pelajaran, satuan pendidikan, potensi daerah dan dirumuskan dalam kata kerja operasional yang terukur dan/atau dapat diobservasi. Indikator digunakan sebagai dasar untuk menyusun alat penilaian.
5. Penentuan Jenis Penilaian
Penilaian pencapaian kompetensi dasar peserta didik dilakukan berdasarkan indikator. Penilaian dilakukan dengan menggunakan tes dan non tes dalam bentuk tertulis maupun lisan, pengamatan kinerja, pengukuran sikap, penilaian hasil karya berupa tugas, proyek dan/atau produk, penggunaan portofolio, dan penilaian diri.
Penilaian merupakan serangkaian kegiatan untuk memperoleh, menganalisis, dan menafsirkan data tentang proses dan hasil belajar peserta didik yang dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan, sehingga menjadi informasi yang bermakna dalam pengambilan keputusan. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penilaian.
a. Penilaian diarahkan untuk mengukur pencapaian kompetensi.
b. Penilaian menggunakan acuan kriteria; yaitu berdasarkan apa yang bisa dilakukan peserta didik setelah mengikuti proses pembelajaran, dan bukan untuk menentukan posisi seseorang terhadap kelompoknya.
c. Sistem yang direncanakan adalah sistem penilaian yang berkelanjutan. Berkelanjutan dalam arti semua indikator ditagih, kemudian hasilnya dianalisis untuk menentukan kompetensi dasar yang telah dimiliki dan yang belum, serta untuk mengetahui kesulitan siswa.
d. Hasil penilaian dianalisis untuk menentukan tindak lanjut. Tindak lanjut berupa perbaikan proses pembelajaran berikutnya, program remedi bagi peserta didik yang pencapaian kompetensinya di bawah kriteria ketuntasan, dan program pengayaan bagi peserta didik yang telah memenuhi kriteria ketuntasan.
e. Sistem penilaian harus disesuaikan dengan pengalaman belajar yang ditempuh dalam proses pembelajaran. Misalnya, jika pembelajaran menggunakan pendekatan tugas observasi lapangan maka evaluasi harus diberikan baik pada proses (keterampilan proses) misalnya teknik wawancara, maupun produk/hasil melakukan observasi lapangan yang berupa informasi yang dibutuhkan.
6. Menentukan Alokasi Waktu
Penentuan alokasi waktu pada setiap kompetensi dasar didasarkan pada jumlah minggu efektif dan alokasi waktu mata pelajaran per minggu dengan mempertimbangkan jumlah kompetensi dasar, keluasan, kedalaman, tingkat kesulitan, dan tingkat kepentingan kompetensi dasar. Alokasi waktu yang dicantumkan dalam silabus merupakan perkiraan waktu rerata untuk menguasai kompetensi dasar yang dibutuhkan oleh peserta didik yang beragam.
7. Menentukan Sumber Belajar
Sumber belajar adalah rujukan, objek dan/atau bahan yang digunakan untuk kegiatan pembelajaran, yang berupa media cetak dan elektronik, narasumber, serta lingkungan fisik, alam, sosial, dan budaya.
Penentuan sumber belajar didasarkan pada standar kompetensi dan kompetensi dasar serta materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi.
B. Contoh Format Silabus
Dalam menyusun silabus dapat memilih salah satu format yang ada di antara berbagai macam format yang berlaku.
SILABUS
Mata Pelajaan :.....................
Alokasi Waktu per Semester : ............. jam pelajaran
Kelas/Semester :..................................
Standar Kompetensi : .............................
Kompetensi Dasar Materi Pembelajaran Kegiatan Pembelajaran Indikator Penilaian Alokasi Waktu Sumber/ Bahan/Alat
Teknik Bentuk






Atau
SILABUS
Mata Pelajaan :.....................
Alokasi Waktu/Semester : ............. jam pelajaran
Kelas/Semester :..................................
Standar Kompetensi : .............................
Kompetensi Dasar Materi Pembelajaran Kegiatan Pembelajaran Indikator Penilaian Alokasi Waktu Sumber/ Bahan/
Alat
Teknik
Penilaian Bentuk
Penilaian Contoh Instrumen





Ada juga bentuk silabus yang dibuat dalam narasi tidak menggunakan bentuk matriks atau kolom seperti kedua contoh tersebut di atas.

C. Pengembangan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
Guru yang professional harus mampu mengembangkan rencana pembelajaran yang baik, logis dan sistematis. Karena disamping itu melaksanakan pembelajaran, persiapan tersebut mengemban professional accountability sehingga guru mampu mempertanggungjawabkan apa yang dilakukannya.
Cynthia (1993:113) megemukakan bahwa proses pembelajaran yang dimulai dengan fase pengembangan pembelajaran, ketika kompetensi dan metodologi diidentifikasi, akan membantu guru dalam mengoganisasikan materi standar, serta mengantisipasi peserta didik dan masalah-masalah yang mungkin timbul dalam pembelajaran, seorang guru akan mengalami hambatan dalam proses pembelajaran yang dilakukannya.
Rencana pembelajaran dapat mencerminkan apa yang dilakukan guru dala memberikan kemudahan belajar kepadda peserta didik, bagaimana cara melakukannya, dan mengapa seorag guru harus melakukan itu. Oleh karena itu, RPP dapat memiliki kedudukan yang esensial dalam pembelajaran yang efektif karena akan membantu membuat disiplin kerja yang baik, suasana yang lebih menarik, pembelajran yang diorganisasikan denga baik, relevan, dan akurat. Rencana pembelajaran merupakan hal penting yang harus dilakukan guru guna dapat menunjang pembentukan kompetensi dasar yang diinginkan. Dalam hal ini guru harus dapat mampu menjabarkan SKKD dalam bidangnya utuk jangka waktu satu tahun atau satu semester, beberapa minggu atau beberapa jam saja. Untuk satu tahun dan satu semester disebut sebagai program unit, sedangkan untuk beberapa jam pelajaran disebut sebagai RPP, yang dalam implementasinya KTSP memiliki kompenen kompetensi dasar, materi standar, pengalaman belajar, metode mengajar, dan penilaian berbasis kelas.
Anderson (1989:47) membedakan perencanaan dalam dua kategori, yaitu perencanaan jangka panjang dan jangka pendek. Perencanaan jangka panjang dapat disebut dengan unit plants, merupakan perencanaan yang bersifat komperenhensif dimana dapat dilihat aktivitas yang direncanakan guru selama satu semester. Perencanaan umum ini memerlukan uraian yang lebih rinci dalam perencanaan jangka pendek yang disebut dengan rencana pembelajaran. Dalam rencana pemebelajaran, guru dapat memodifikasi perencanaan umum yang telah dibuatnya, disesuaikan dengan kondisi kelas dan karakteristik peserta didik.
Disamping itu, perlu ditetapkan pula fokus kompetensi yang diharapkan dari peserta didik sebagai hasil akhir pembelajaran. Kompetensi ini Juga akan menjadi pedoman bagi guru dalam menetukan materi standar yang akan digunakan dan pendekatan pembelajaran yang tepat untuk membentuk kompetensi peserta didik. Setelah kompetensi diidntifikasi, guru membuat keputusan tentang pendeatan pembelajaran. Pendekatan pembelajaran dipilih dengan mempertimbangkan berbagai factor seperti kompetensi dasar, motivasi peserta didik, prosedur untuk membentuk kompetensi peserta didik dan menetapkan perangkat pembelajaran, serta cara-cara alternatif untk mengembangan kompetensi dasar.
Gagne dan Briggs (1998) mengisyaratkan bahwa dal mengembangkan rencana pembelajaran untuk meningkatkan kualitas pembelajaran perlu memerhatikan empat asumsi sebagai berikut:
1. Rencana pemebelajaran perlu dikembangkan dengan baik dan menggunakan pendekatan sistem. Pengembangan rencana pembelajaran dipengaruhi oleh teori-teori yang melandasinya dan langkah-langkah yang ditempuh dalam proses pembuatannya. Gagne merumuskan bahwa system pembelajaran merupakan serangaian peristiwa yang adapat mempengaruhi peserta didik sehingga terjadi proses belajar pada dirinya demi tercapai atau dikuasainya suatu kompetensi. Proses pembelajaran di pandang sebagai suatu system karena memiliki sejumlah kompenen yang ang berinteraksi dan berinterelasi, memiliki fungsi masing-masing untuk mencapai tujuan pembelajaran dan membentuk potensi peserta didik.
2. Renana pembelajaan harus dikembangkan berasarkan pengetahuan peserta didik. Kualitas rencana pembelajaran banyak bergantung pada bagaimana rancanngan tersebut dibuat, apakah bersifat ilmiah, intutif atau keduanya. Rencana pembelajaran harus dikembangkan secara ilmiah berdasarkan pengetahuan peserta didik, yaitu teori-teori belajar dan pembelajaran yang telah diuji coba dan diteliti oleh para ahli ilmu pendidikan. Uraian tersebut diatas mengisyaratkan bahwa guru professional perlu memiliki pengetahuan mengenai teori-teori belajar dan pembelajaran, serta harus memiliki kemampuan membuat RPP dengan baik dan efektif.
3. Renana pembelajaan harus dikembangkan untuk memudahkan peserta didik belajar dan membentuk kompetensi dirinya. Meskipun prose pembelajaran dilakukan secara klasikal, pada hakekatnya belajar itu bersifat individual. Oleh karena itu, dalam mengembangkan RPP perlu mempertimbankan karakteristik peserta didik disamping unsur-unsur yang lain, seperti kompetensi dasar, materi standard an strategi yang digunakan untuk membentuk kompetensi peserta didik.
4. Rencana pembelajaan hendaknya tidak dibuat asal-asalan, apalagi hanya untuk memenuhi syarat administrasi. Asumsi yang keempat ini bersifat menegaska akan pentingnya asumsi pertama dan kedua, yakni bahwa program satuan pelajaran harus disusun sesuai dengan prosedur ilmiah.
Landasan penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran terdapat pada: PP NO 19 tahun 2005 Pasal 20 Perencanaan proses pembelajaran meliputi silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran yang memuat sekurang-kurangnya tujuan pembelajaran, materi ajar, metode pengajaran, sumber belajar, dan penilaian hasil belajar. Rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) adalah rencana yang menggambarkan prosedur dan pengorganisasian pembelajaran untuk mencapai satu kompetensi dasar yang ditetapkan dalam Standar Isi dan dijabarkan dalam silabus. Lingkup Rencana Pembelajaran paling luas mencakup 1 (satu) kompetensi dasar yang terdiri atas 1 (satu) indikator atau beberapa indikator untuk 1 (satu) kali pertemuan atau lebih.
Penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran terdiri dari langkah-langkah sebagai berikut:
1. Mengisi kolom identitas
2. Menentukan alokasi waktu yang dibutuhkan untuk pertemuan yang telah ditetapkan
3. Menentukan SK, KD, dan Indikator yang akan digunakan yang terdapat pada silabus yang telah disusun
4. Merumuskan tujuan pembelajaran berdasarkan SK, KD, dan Indikator yang telah ditentukan Mengidentifikasi materi ajar berdasarkan materi pokok/ pembelajaran yang terdapat dalam silabus. Materi ajar merupakan uraian dari materi pokok/pembelajaran
5. Menentukan metode pembela-jaran yang akan digunakan
6. Merumuskan langkah-langkah pembelajaran yang terdiri dari kegiatan awal, inti, dan akhir.
7. Menentukan alat/bahan/ sumber belajar yang digunakan
8. Menyusun kriteria penilaian, lembar pengamatan, contoh soal, teknik penskoran, dll
D. Format Renacana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
Adapun format dan komponen yang terdapat pada rencana pelaksanaan pembelajaran atau RPP dapat dilihat uraian berikut:

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
Mata Pelajaran : …..................................................
Kelas/Semester : …..................................................
Pertemuan Ke- : …....................................................
Alokasi Waktu : …....................................................
Standar Kompetensi : ….....................................................
Kompetensi Dasar : …......................................................
Indikator : ……………………………...................
Tujuan Pembelajaran :….......................................................
Materi Ajar :…........................................................
Metode pembelajaran :……....................................................
Langkah-langkah Pembelajaran :.................................................
- Kegiatan awal
- Kegiatan Inti
- Kegiatan Penutup
Sumber Belajar :………………………….......................
Penilaian Hasil Belajar :……………………………………………
Mengetahui Kota,........................ 2007
Kepala Sekolah/Madrasah Guru Mapel...................

.................................... ..........................................
NIP.............................. NIP...................................


 Pendapat Pribadi
Menurut saya silabus dan RPP itu disusun berdasarkan prinsip yang berorientasi pada pencapaian kompetensi dan sistem penilaian mata pelajaran harus disusun sesuai dengan kebutuhan daerah atau sekolah tersebut sehingga silabus dan RPP tersebut bener-benar menjadi pedoman guru dalam mengembangkan pembelajaran di sekolah dan pengorganisasiannya ke seluruh komponen yang dapat mengubah perilaku peserta didik. RPP harus memperhatikan minat dan perhatian peserta didik terhadap materi yang dijadikan bahan kajian. Dalam hal ini peran guru bukan hanya sebagai transformator saja, akan tetapi harus berperan sebagai motivator yang dapat membangkitkan gairah belajar, serta mendorong siswa untuk belajar dengan menggunakan berbagai variasi media, dan sumber belajar yang sesuai serta menunjang pembentukan kompetensi.
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil uraian dan pembahasan pada pokok bahasan yang termuat dalam artikel ini dapat saya simpulkan bahwa Pemberlakuan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan menuntut guru untuk mampu membuat administrasi pembelajaran yang berbeda dengan kurikulum sebelumnya. Setelah sekolah menetapkan KTSP maka guru wajib menjabarkan Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan kedalam bentuk Silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran. Silabus harus disusun secara sistematis dan berisikan komponen-komponen yang saling berkaitan untuk memenuhi target pencapaian kompetensi dasar. Bentuk silabus sebenarnya dapat bervariasi dan dapat dikembangkan sendiri oleh sekolah. Komponen yang minimal harus terdapat dalam sebuah silabus ialah kompetensi dasar, hasil belajar, indikator, materi pokok, pengalaman belajar, alokasi waktu, sumber/alat/bahan, dan penilaian. Format silabus dapat dibuat dalam bentuk narasi maupun kolom/matriks. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran merupakan kelanjutan yang harus dibuat guru berdasarkan silabus yang telah dibuat dalam pelaksanaan pembelajaran di kelas.

B. Saran
Disrankan kepada pengasuh mata kuliah berhubung karena penulis mengalami hambatan dalam penulisan artikel di bagian abstraknya kalau boleh artikel selanjutnya tidak perlu menggunakan bahasa inggris, karena menurut saya, sewaktu orang membacanya akan kurang mengerti maksud dan tujuannya karena ada kekurangan keahlian bahasa asing.









DAFTAR PUSTAKA
Permendiknas 22, 23 dan 24 Tahun 2006
Hasil Rakor Kasi Mapenda Depag RI Tanggal 18 s.d. 20 Nopember 2006 di Bogor
Materi Diklat Fasilitator Guru Mapel SD, SMP dan SMA LPMP DKI Jakarta Tanggal 20 s.d. 29 Maret 2007