LAPORAN
GROUP INVESTIGATION
STRATEGI PENGORGANISASIAN PEMBELAJARAN
Dosen Pengasuh Mata Kuliah:
Sundari S.Pd, M.Pd
Abdu Mas’ud S.Pd, M.Pd
OLEH
Kelompok XII
Husen Hasan
Metti fazrin
Juwita Suleman
Farida M. U. Tawari
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
UNIVERSITAS KHAIRUN
TERNATE
2011
PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG
Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, pandangan tentang hakekat pembelajaran (pengajaran) berangsur-angsur mengalami perubahan (Ismaniati, 1996:14). Hal ini nampak dalam uraian para ahli tentang hakekat pembelajaran, terutama defenisi yang dikemukakan mereka. Dengan mencermati berbagai defenisi tersebut dapat dilakukan pembedaan dan pengelompokan, yaitu kelompok defenisi yang bersifat tradisonal di pihak yang satu, dan yang modern atau yang baru di pihak yang lain.
Defenisi yang lebih ke arah tradisional pada umumnya lebih menonjolkan apa yang perlu dilakukan oleh guru (pengajar) dalam proses pembelajaran. Ini berarti bahwa yang menjadi subjek dalam pembelajaran adalah guru, bukan siswa. Dengan demikian, sejak rancangan hingga pelaksanaan, tindakan pengajaran akan nampak dalam bentuk serangkaian kegiatan pengajaran guru semata-mata. Sedangkan, siswa pasif sebagai objek atau hanya menerima apa yang ditransferkan guru.
Defenisi yang lebih ke arah modern mulai memandang bahwa dalam pembelajaran, siswa merupakan subjek belajar yang aktif dan unik serta mampu menemukan masalah belajarnya sesuai dengan tingkat perkembangannya. Padangan modern ini juga memandang guru sebagai salah satu sumber belajar yang dapat dimanfaatkan siswa dalam rangka memecahkan problem sekalaigus mencapai tujuan belajarnya.
Demikian juga bahwa pandangan modern bukan hanya melihat guru dan buku yang merupakan sumber belajar, melainkan lingkungan secara menyeluruh seperti sekolah dan masyarakat. Dengan memaknai lingkungan secara menyeluruh, maka akan terjadi interksi antara siswa dengan lingkungannya dan dengan begitu siswa akan memperoleh pengalaman yang bermakna bagi hidupnya. Oleh karena itu, defenisi-defenisi dalam kelompok ini, cenderung akan menonjolkan pentingnya upaya perskriptif tentang strategi pembelajaran untuk memudahkan belajar siswa, sehingga tujuan dapat dicapai secara lebih efektif dan efisien. Dari pembedaan dan pengelompokan di atas menunjukan bahwa telah berlangsungnya apa yang disebut sebagai pergeseran dan perubahan paradigma pembelajaran. Diakui bahwa pergeseran dan perubahan paradigma pembelajaran turut didorong oleh tuntutan penggunaan berbagai media dengan maksud untuk menciptakan kemudahan belajar. Pergeseran paradigma dalam pembelajaran harus dilihat sebagai tantangan bagi lembaga-lembaga pendidikan dan para pengajar (guru) untuk meningkatkan kualitas profesionalasimenya.
Dalam hal ini, guru mampu mendesain, menerapkan dan mengevaluasi program pembelajaran secara baik. Apalagi, peningkatan mutu, relevansi dan efektifitas pendidikan sebagai tuntutan nasional sejalan dengan perkembangan dan kemajuan masyarakat, berimplikasi secara nyata dalam program pendidikan dan kurikulum sekolah. Tujuan dan program kurikulum dapat dicapai secara baik apabila programnya didesain secara baik dan aplikatif (Hamalik, 2001:vi).
Pemikiran di atas berimplikasi pada adanya tuntutan bagi para guru untuk memiliki kemampuan mendesain programnya dan sekaligus menentukan strategi instruksional yang harus ditempuh. Para guru harus memiliki keterampilan memilih dan menggunankan metode mengajar untuk dapat diterapkan dalam sistem pembelajaran yang efektif.
RUMUSAN MASALAH
Rumusan masalah (rumusan problematik) yang dijadikan sebagai acuan masalah yang di angkat dalam tugas makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Apa yang di maksud dengan strategi pengorganisasian pembelajaran ?
2. Bagaimana Strategi pengorganisasian dalam Proses Pembelajaran ?
3. Bagaimana keterampilan guru dalam merancang strategi pengorganisasian isi pembelajaran ?
4. Bagaimana pemilihan dan penggunaan metode dan media pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik materi serta karakteristik siswa ?
TUJUAN
Tujuan penulis dalam mengakat masalah yang dibahas adalah mengacu kepada upaya untuk mengetahui seperti apakah strategi pengorganisasian isi pembelajaran yang akan diterapkan dalam pembelajaran.
METODE
Metode yang digunakan dalam laporan group investigasi ini adalah menggunakan Library Research (Penelitian kepustakaan) dimana artikel ini dibuat dengan menggunakan literature (kepustakaan) yaitu dari penulisan artikel atau hasil-hasil karya orang lain yang diambil dan dijadikan sebagai sumber referensi. Literatur yang di maksudkan adalah berasal dari berbagai buku, tesis skripsi, makalah, internet dan dan media lainnya yang diperoleh melalui perpustakaan, selanjutnya ditelaah dan menjadi sebuah hasil yang berbentuk laporan investigasi.
PEMBAHASAN
STRATEGI PENGORGANISASIAN
PEMBELAJARAN
A. PENGERTIAN
Strategi pengorganisasian isi pembelajaran adalah metode untuk mengorganisasikan isi bidang studi yang telah dipilih untuk pembelajaran. “Mengorganisasi” mengacu pada tindakan seperti pemilihan isi, penataan isi, pembuatan diagram, format, dan lain-lain yang setingkat dengan itu. Strategi pengorganisasian isi pembelajaran disebut oleh Reigeluth, Bunderson, dan Merrill (1977) sebagai structural strategy, yang mengacu kepada cara untuk membuat urutan (sequencing) dan mensintesis (synthesizing) fakta-fakta, konsep-konsep, prosedur, atau prinsip-prinsip yang berkaitan. Sequencing mengacu kepada pembuatan urutan penyajian isi bidang studi dan synthesizing mengacu kepada upaya untuk menunjukkan kepada si-pembelajar keterkaitan antar isi bidang studi itu.
Pengorganisasian pembelajaran secara khusus, merupakan fase yang amat penting dalam rancangan pembelajaran. Synthesizing akan membuat topik-topik dalam suatu bidang studi menjadi lebih bermakna bagi si-belajar (Ausubel,1968) yaitu dengan menunjukkan bagaimana topic-topik itu terkait dengan keseluruhan isi bidang studi. Sequencing atau penataan urutan, amat diperlukan dalam pembuatan sintesis.
Tujuan sintesis adalah untuk membuat topik-topik dalam suatu bidang studi menjadi lebih bermakna bagi siswa. Hal ini dilakukan dengan menunjukkan berkaitan dengan topik-topik tersebut terkait dengan keseluruhan isi bidang studi. Adanya kebermaknaan tersebut akan menyebabkan siswa memiliki retensi yang lebih baik dan lebih lama terhadap topik-topik yang dipelajari (Degeng,1989; Wena, 2009).
B. STRATEGI MAKRO DAN MIKRO
Strategi pengorganisasian makro diacukan untuk menata keseluruhan isi bidang studi, sedangkan strategi pengorganisasian mikro diacukan untuk menata sajian suatu konsep, atau prinsip, atau prosedur.
1) STRATEGI MIKRO
Teori Gagne dan Briggs, teori pembelajaran yang dikembangkannya mendeskripsikan hal-hal yang berkaitan dengan:
Kapabilitas Belajar
Lima kapabilitas belajar yang dapat dipelajarai oleh si-belajar, meliputi:
1) Informasi verbal. Si-belajar telah belajar informasi verbal apabila ia dapat mengingat kembali informasi itu.
2) Ketrampilan Intektual. Si-belajar akan menggunakan suatu ketrampilan intelektual apabila ia berinteraksi dengan lingkungan simbulnya bahasa dan angka. Ketrampilan Intelektual mencakup lima katagori, yaitu: (1) Diskriminasi; (2) Konsep konkrit; (3) Konsep abstrak; (4) Kaidah; (5) Kaidah tingkat lebih tinggi
3) Strategi Kognitif. Siswa telah belajar strategi koqnitif apabila ia telah mengembangkan cara-cara untuk meningkatkan keefektifan dan efisiensi proses berfikir dan proses belajarnya.
4) Sikap. Keadaan mental yang komplek dari si-belajar yang dapat mempengaruhi pelihannya untuk melakukan tindakan-tindakan yang sifatnya pribadi terhadap orang lain, benda, atau peristiwa.
5) Ketrampilan Motorik. Si-belajar telah mengembangkan ketrampilan motorik apabila ia telah menampilkan gerakan-gerakan fisik dalam menggunakan bahan-bahan atau peralatan-peralatan menurut prosedur.
Gagne dan Briggs mendeskripsikan kondisi belajar yang berbeda untuk setiap katagori kapabilitas. Mereka membedakan dua jenis kondisi belajar yaitu:
1) Kondisi belajar internal. Mengacu kepada perolehan dan penyimpanan kapabilitas-kapabilitas yang telah dipelajari si-belajar yang mendukung belajar kapabilitas lainnya.
2) Kondisi belajar eksternal. Mengacu kepada berbagai cara yang dirancang untuk memudahkan proses-proses internal dalam diri si-belajar ketika belajar.
Peristiwa Pembelajaran
Teori belajar pengolahan informasi mendeskripsikan bahwa tindakan belajar merupakan proses internal yang mencakup beberapa tahapan. Gagne (1985) mengemukakan bahwa tahapan-tahapan ini dapat dimudahkan dengan menggunakan metode pembelajaran yang mengikuti urutan tertentu yang ia sebut dengan “peristiwa pembelajaran”. Peristiwa pembelajaran ini dibagi menjadi sembilan tahapan yang diasumsikan sebagai cara-cara eksternal yang berpotensi mendukung proses-proses internal dalam belajar, yaitu:
Menarik perhatian;
Memberitahukan tujuan pembelajaran kepada si-belajar;
Merangsang ingatan pada prasarat belajar;
Menyajikan bahan perangsang;
Memberikan bimbingan belajar;
Mendorong unjuk kerja;
Memberikan balikan informative;
Menilai unjuk kerja;
Meningkatkan retensi dan alih belajar.
Pengorganisasian Pembelajaran (urutan pembelajaran)
Kini sampai pada inti kajian yaitu mendeskripsikan cara yang diperkenalkan Gagne dalam mengorganisasikan urutan pembelajaran. Pertimbangan terpenting dalam membuat urutan pembelajaran adalah ada tidaknya prasyarat untuk suatu kapabilitas, dan apakah si belajar telah memiliki prasyarat belajar itu.
Model Taba : Pembentukan Konsep
Taba (1980) memperkenalkan strategi pengorganisasian pembelajaran tingkat mikro, khusus untuk belajar konsep dengan pendekatan induktif. Strategi yang diciptakannya terdiri dari tiga tahapan sejalan dengan tiga tingkatan proses berpikir yang dikemukakannya. Ketiga tingkatan proses berpikir itu adalah: (1) pembentukan konsep, (2) intepretasi, dan (3) aplikasi prinsip.
Pengorganisasian pembelajaran untuk keperluan pembentukan konsep terdiri dari tiga langkah, yaitu:
a) Mengidentifikasi contoh-contoh yang relevan dengan konsep yang akan dibentuk.
b) Mengelompokkan contoh-contoh berdasarkan karakteristik serupa (criteria tertentu) yang dimiliki.
c) Mengembangkan katagori atau nama untuk kelompok-kelompok itu.
Model Bruner: Pemahaman Konsep
Pembentukan konsep dan pemahaman konsep merupakan dua kegiatan mengkategorikan yang berbeda yang menuntut proses berpikir yang berbeda pula. Seluruh kegiatan mengkategori meliputi mengidentifikasi dan menempatkan contoh-contoh ke dalam kelas dengan menggunakan dasar Kriteria tertentu.
Bruner (1980) memandang bahwa suatu konsep memilki lima unsur dan seseorang dikatakan memahami suatu konsep apabila ia mengetahui semua unsur dari konsep itu. Kelima unsure tersebut adalah (1)Nama; (2)Contoh-contoh; (3)Karakteristik, baik yang pokok maupun tidak; (4)Rentangan karakteristik, dan (5)Kaidah.
Menganalisis Strategi Berpikir untuk Memahami Konsep
Bruner (1980) menggunakan istilah strategi yang mengacu kepada urutan keputusan yang dibuat oleh seseorang dalam meneliti setiap keputusan yang dibuat oleh seseorang dalam meneliti setiap contoh dari suatu konsep. Bruner juga mengembangkan strategi-strategi yang berbeda untuk mencapai jenis konsep yang berbeda. Ada tiga strategi pengorganisasian pembelajaran pemahaman konsep yang telah dikembangkan, yaitu: (1)Model penerimaan; (2)Model pilihan, dan (3)Model dengan contoh yang terorganisasi.
1) Model penerimaan mengacu kepada strategi pengorganisasian contoh-contoh konsep dengan memberi tanda “ya”, bila contoh itu menjadi contoh konsep, dan tanda “tidak”, bila contoh itu bukan contoh konsep.
2) Model pilihan mengacu kepada strategi pengorganisasian contoh-contoh konsep tanpa memberi tanda “ya” atau “tidak”.
3) Model dengan contoh yang terorganisasi mengacu kepada strategi pemahaman konsep dengan menggunakan contoh-contoh yang terorganisasi dalam lingkungan kehidupan yang sesungguhnya.
2) STRATEGI MAKRO
Hirarki Belajar
Gagne (1968) menekankan pada penataan urutan dengan memunculkan gagasan prasyarat belajar yang disebut hirarkhi belajar. Reigeluth dalam Degeng (1988) mengemukakan bahwa analisis hirarkhi belajar kurang berarti untuk membuat sintesis. Pendapat ini dipertegas oleh Gagne (1977) bahwa analisis hirarkhi belajar kurang berarti untuk membuat sintesis, dengan demikian untuk mengorganisasi keseluruhan isi bidang studi (strategi makro) perangcang pembelajaran perlu beralih ke strategi lain.
Analisa Tugas
Cara lain yang dipakai untuk menunjukkan keterkaitan isi bidang studi adalah information- processing approach to task analysis Seseorang dapat saja mempelajari langkah terakhir dari suatu prosedur pertama kali, tetapi dalam unjuk kerja ia tidak dapat memulai dari langkah terakhir. Gropeper, Landa, Merrill, Resnick, dan Scandura adalah orang-orang yang pertama kali menekankan pentingnya hubungan jenis ini (information- processing approach to task analysis ) dalam pengorganisasian pembelajran pada tingkat makro.
Sub Sumptife Sequence
David Ausubel (1968) mengemukakan gagasan, cara membuat urutan sistem pembelajaran yang dapat membuat pembelajaran jadi lebih bermakna, ia menggunakan urutan dari umum ke rinci. Bila pengetahuan baru diassimilasikan dengan pengetahuan yang sudah ada, maka perolehan belajar dan retensi akan dapat ditingkatkan
Kurikulum Spiral
Jerome Brunner (1960) menyatakan bahwa a spiral curriculum merupakan pembelajaran tingkat makro, dengan konsep pembelajaran dimulai dengan mengajarkan isi pengajaran secara umum, kemudian secara lebih rinci.
Teori Skema
Anderson dkk. (1977) menguatkan pendapat David Ausubel (1968) dengan tori skema, teori Ausubel (1968) memandang proses belajar sebagai pengetahuan baru dalam diri si belajar dengan cara mengaitkannya dengan struktur kognitif yang sudah ada dan hasil belajar sebagai hasil pengorganisasian struktur kognitif yang baru, struktur kognitif yang baru ini akan menjadi asimilatif skema.
Webteaching
Norman (1973) mengenai webteaching sebagai prosedur menata urutan isi bidang studi termasuk strategi makro. Prosedur ini menekankan pentingnya peran struktur pengetahuan yang telah dimiliki oleh si belajar dan struktur isi bidang yang akan dipelajari. Hal ini sesuai dengan pendapat Tillema (1983).
Teori Elaborasi
Teori ini mempreskripsikan cara mengorganisasikan pembelajaran dari umum ke rinci, urutan umum ke rinci dimulai dari epitome kemudian mengelaborasi dalam epitome ke lebih rinci.
Komponen Strategi Teori Elaborasi
Menurut Reigeluth dan Stein (1983) ada 7 komponen strategi yang diintegrasikan dalam teori elaborsi, yaitu ; (1) urutan elaboratif; (2) urutan prasarat belajar; (3) rangkuman; (4) synthesis; (5) analogi; (6) pengaktif strategi kognitif; (7) kontrol belajar.
Urutan elaboratif
Urutan elaboratif adalah urutan dari yang sederhana kepada yang komplek atau dari umum ke rinci yang memiliki karakteristik khusus.
Urutan prasyarat belajar
Urutan prasyarat belajar dimaksud adalah sepadan dengan struktur belajar atau herarki belajar yang dikemukakn oleh Gagne (1968).
Rangkuman
Rangkuman adalah tinjauan kembali (review) terhadap apa yang telah dipelajari penting sekali dilakuka untuk mempertahankan ritensi. Review juga sebagai acuan yang mudah diingat untuk konsep, prosedur, atau prinsip yang diajarkan.
Pensintensis adalah komponen strategi teori elaborasi yang berfungsi untuk menunjukkan kaitan-kaitan diantara konsep-konsep, prosedur-prosedur dan prinsip-prinsip yang diajarkan. Dengan mengkaitkan konsep-konsep ini akan meningkatkan kebermaknaan dengan jalan menunjukkan suatu konsep, prosedur, atau prinsip pada bagian yang lebih luas (Ausubel 1968) selain itu juga dapat memberi pengaruh situasional pada si belajar (Keller 1983) juga berpeluang meningkatkan retensi (Quillian 1968).
Analogi, menurut Dreistadt (1969) dan Reigeluth (1983) analogi menggambarkan persamaan antara pengetahuan yang baru dengan pengetahuan yang lain yang berbeda diluar cakupan pengetahuan yang sedang dipelajari. Ini membantu pemahaman terhadap pengetahuan yang sukar dipelajari siswa.
Pengaktif Strategi Kognitif adalah ketrampilan-ketrampilan yang diberlakukan si-belajar untuk mengatur proses-proses internalnya ketika ia belajar, mengingat dan berpikir (Gagne 1985).
Kontrol Belajar menurut Merrill (1979) konspsi kontrol belajar mengacu pada kebebasan si belajar dalam melakukan pilihan dan pengurutan terhadap isi yang akan dipelajari (content controll), pace controll, display controll dan cosiuous cognation controll. Dalam kaitan ini si belajar menentukan sendiri isi, urutan, strategi kognitif yang paling cocok baginya untuk digunakan dalam suatu pembelajaran.
REFLEKSI
Kekurangan
Kekurangan yang terdapat pada strategi pengorganisasian pembelajaran yaitu umumnya lebih menonjolkan apa yang perlu dilakukan oleh guru (pengajar) dalam proses pembelajaran. Ini berarti bahwa yang menjadi subjek dalam pembelajaran adalah guru, bukan siswa. Dengan demikian, sejak rancangan hingga pelaksanaan, tindakan pengajaran akan nampak dalam bentuk serangkaian kegiatan pengajaran guru semata-mata. Sedangkan, siswa pasif sebagai objek atau hanya menerima apa yang ditransferkan guru.
Kelebihan
Kelebihan yang terdapat pada strategi pengorganisasian pembelajaran yaitu bagi para guru untuk memiliki kemampuan mendesain programnya dan sekaligus menentukan strategi instruksional yang harus ditempuh. Para guru harus memiliki keterampilan memilih dan menggunankan metode mengajar untuk dapat diterapkan dalam sistem pembelajaran yang efektif. dalam pembelajaran, siswa merupakan subjek belajar yang aktif dan unik serta mampu menemukan masalah belajarnya sesuai dengan tingkat perkembangannya.
DAFTAR PUSTAKA
Black, S. 2003. The Creative Classroom, American School Board Journal. Di akses tanggal 26 April 2011
Degeng, I.N.S. 1997. Strategi Pembelajaran Mengorganisasi Isi dengan Model Elaborasi. Malang: IKIP dan IPTDI
Gardner, H 1999.Intellegence Reframed: Multiple Intellegences For The 21. Century . New York: Basic Books.
Kistono. 2008. http:// Strategi Pengorganisasian Pembelajaran: Wordpress.Com. di akses tanggal 22 Maret 2011.
Wina Sanjaya, 2008. Strategi Pembelajaran. Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Penerbit Kencana Prenada Meda Group.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar